Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 November 2016

Cerpen Raudhia

Menjadi Tekstur di Kertas Double Folio
Karya Raudhia Azhary Nurmadina

Malam semakin kusut. Tugas-tugas di atas meja berhamburan karena sebuah double folio putih di meja belajarku yang harus kutulisi. Malam semakin larut dalam kesepian yang begitu mendekap. Air yang ditebar bulan perlahan menyusup di jendela mungil kamarku.
Aku nyaris tidak berani menatap lebih lama lagi double folio yang kini tengah duduk di atas meja belajarku. Double folio yang masih suci dengan warna putih yang melindungi tubuhnya harus kuiisi dengan bolpoint. Aku menggenggam erat berbagai kisah pada jemariku. Jemariku kaku dibuatnya. Entah apa yang harus kutulis di dalam double folio sebab terlalu banyak cerita yang hendak keluar secara bersamaan. Aku sungguh gelisah memikirkan kata demi kata yang harus kurangkai untuk mengenakkan beberapa peristiwa dalam selembar kertas. Apabila kertas itu sudah terisi penuh, akan ada harapan besar orangtuaku yang aku hancurkan. Akan ada noda hitam yang begitu besar mencoreng nama besar keluargaku akibat double folio itu.
Kenangan pahit itu kembali menggelayuti pikiranku. Kenangan yang membuat hidupku berasa tak berarti lagi kini. Sejenak aku kembali ke masa-masa itu.
 ***
Namaku Calista Angel Hadinata. Teman-temaku sering memanggilku dengan Angel. Aku salah satu siswi SMA di sekolah ternama di kota ini. Aku bisa masuk di sekolah itu bukan suatu kebetulan, tetapi karena sejak SMP dulu atau bahkan ketika di bangku sekolah dasar aku merupakan salah satu siswa berprestasi. Beberapa kali sekolah mempercayaiku untu mengikuti berbagai jenis lomba dan aku sering menggondol piala demi piala untuk sekolahku tercinta.
Aku memiliki orangtua, pengusaha sukses di kotaku. Dari kerja keras yang mereka tunjukkan membuatku menjadi manusia yang selalu bekerja keras untuk mendapatkan prestasi yang lebih baik lagi. Walaupun mama dan papaku merupakan pengusaha ternama, tetapi tak lantas membuat mereka menjadi orangtua yang kurang memberikan kasih sayang terhadap putri semata wayangnya. Setiap malam mulai menunjukkan dirinya, kedua orangtuaku selalu menyempatkan waktu untuk makan malam bersamaku. Di tengah kesibukan bisnis yang membayangi hari mereka, mereka selalu berpesan terhadapku agar selalu bisa menjadi putri kebangaan mereka. Dengan keyakinan aku selalu mendengarkan perkataan mereka untukku.
Entah berapa kicau burung yang terekam di telingaku, entah berapa kali sudah lonceng berbunyi untuk memanggilku kembali ke dalam kelas, dan entah berapa tepuk tangan menyambutku saat namaku disebut di lapangan upacara sebagai siswa berprestasi. Aku tengah berada di masa-masa tersibuk dalam mengenyam penididikan jengjang SMP. Bagaimana tidak, selain sibuk mermpersiapkan diri untuk menghadapi UN siswa-siswi kelas IX juga tengah terbebani agar nilai UN mereka bisa memuaskan sehingga bisa membantu mereka untuk masuk ke sekolah yang mereka impikan. Aku juga tengah giat berusaha untuk dapat masuk ke sekolahan yang sudah aku impikan sejak dulu.
“Hasil tertinggi Ujian Nasional tahun 2017 di SMP Harapan Karawang, sekaligus menjadi nilai tertinggi kedua tingkat nasional diraih siswa atas nama Calista Angel Hadinata dengan total raihan nilai 39,00.”
Aku tidak percaya dan amat bahagia ketika mendengar namaku disebutkan oleh kepala sekolah. Hal itu sontak membuat hatiku seolah membentangkan pelangi yang begitu indah di dalam bola mataku.  Yah dengan hasil gemilang, membuatku menutup pendidikanku di jenjang SMP dengan manis atau bahkan dengan sangat manis. “Terimaksih Tuhan.” kuucapkan dengan terharu.
Lonceng di SMP digantikan dengan bel listrik. Setiap tanda masuk sekolah bel secara otomatis memperdengarkan nyanyian Indonesia Raya dan  mars sekolahku. Masa putih biruku telah usai dan beralih ke masa putih abu. Bila sebelumnya aku melewati hari-hariku bersama kedua orangtuaku, kini aku memtuskan belajar hidup mandiri yakni memilih untuk hidup dan tinggal seorang diri. Aku memilih untuk kost bukan karena kedua orangtuaku sudah tak sayang lagi denganku, tetapi karena aku ingin bisa berlatih mandiri. Bila sebelumnya segala kebutuhanku sehari-hari disiapkan oleh bibi, di tempat kostku, aku harus mempersiapkan segala sesuatunya sendiri. Tak hanya itu aku juga ingin keluar dari zona nyaman yang selama ini membelenggu diriku.
Aku mulai melewati hai-hariku dengan menjadi anak kost. Ternyata hidup sendiri itu tidak semudah yang ada dalam benakku, tetapi hal itu tak lantas membuatku menyerah. Justru hal itu membuatku lebih bersemangat meraih prestasi.
Aku punya teman baru bernama Jorji. Aku dengannya sudah seperti seorang saudara walaupun kami belum lama kenal. Kami selalu bersama mengikuti berbagai kegiatan OSIS. Tak hanya itu saja, Tuhan juga seolah punya skenario yang amat indah. Aku dan Jorji tak hanya menjadi teman di sekolah saja, tetapi di kost pun kita masih berteman dekat karena letak kamar kami bersebelahan. Aku dengannya juga mulai berbagi kisah satu sama lainnya. Kami juga saling menceritakan salah satu rahasia. Aku begitu nyaman bila bercerita dengannya. Aku seperti mendapatkan saudara. Dengan adanya Jorji aku bisa berjalan kaki menuju sekolah sambil memungut sampah plastik di sepanjang jalan yang kami lalui. Kami memungut sampah hanya untuk datang tepat waktu ke sekolah, sebab kami berangkat terlalu pagi karena tidak ada kegiatan di tempat kost.  Karena itulah, aku dan Jorji dinobatkan sebagai siswa pecinta lingkungan oleh sekolahku.
Seiring dengan berjalannya waktu, masa SMA tidak sepenuhnya menjadi masa-masa yang indah. Aku mulai merasakan suatu titik jenuh. Aku mulai bosan dengan kegiatan yang aku lakukan seperti, belajar dan terus belajar agar nilaiku bisa memuaskan dan tetap bisa menjadi kebanggan kedua orangtuaku. Tak hanya jenuh dengan kegiatanku saja, namun masalah yang serius mulai muncul. Bisnis kedua orangtuaku perlahan mulai goyah dan menurun. Persaingan antar negara semakin sulit. Setiap orang bisa bekerja dan membuka usaha di negeri orang. Tampaknya, papaku tidak siap dengan segala itu. Keperluan mamaku juga sudah tidak bisa dipenuhi lagi dengan usaha carut marut. Mama dan papaku sedang resah dengan permasalahan, aku pun resah dengan kemandirian semu. Aku hanya pindah tempat tidur, sementara biaya hidup masih ditanggung orangtuaku. Dengan kehancuran bisnis papaku, aku mulai menyadari bahwa aku tidak pernah belajar mandiri.
Aku mulai menjadi seorang manusia yang tak lagi memiliki suatu tujuan hidup yang harus diperjuangkan. Aku sibuk memikirkan usaha yang bisa menghasilkan uang, tetapi aku tidak pernah mencobanya karena tidak begitu yakin akan berhasil. Aku mulai malas belajar dan nilai-nilaiku mulai turun secara drastis. Aku tidak mempedulikan itu lagi. Aku merasa orangtuaku sudah tidak sayang lagi kepadaku sebab mama dan papa tidak mengirimkan uang yang cukup untuk uang saku di sekolah ternama.
Aku mulai menceritakan segala hal yang aku rasakan kepada Jorji. Jorji dengan setianya mendengarkan segala keluh kesahnya. Dadaku sesak karena tidak kuasa menjalani hidup. Jorji mendekapku dengan kasih sayang. Setiap hari, semakin keras sesak dadaku. Rasanya hanya dekapan Jorji yang mampu melenyapkan penderitaan.
Jorji mengetuk pintu, aku membuka pintu dan membiarkan dirinya mendekapku. Jorji mejelaskan bahwa dirinya tidak ada apa-apanya. Yang sesungguhnya adalah segelas air yang dicampur obat, dan air itulah yang menenangkanku, sebab sehabis didekap oleh Jorji, aku selalu diminta minum segelas air. Aku menjadi pecandu yang sudah tidak puas dengan campuran air dan obat terlarang. Aku memerlukan obat dengan dosis yang lebih banyak lagi. Aku meminta Jorji memberiku obat yang lebih banyak untuk menghilangkan sesak dan gelisah. Jorji memperkenalkan suatu alat yang bisa membuatku merasa lupa dan sedikit lebih tenang dalam menjalani segala masalah yang ada di dalam hidupku.
Setelah Jorji mengenalkan aku dengan alat dan benda itu, aku merasa menyatu dengan tubuhku, aku mendapatkan rasa yang begitu nyaman dan tenang. Tidak ada lagi orang yang bisa memengaruhiku. Hanya aku seorang yang bisa menenangkan diriku. Aku tidak lagi membutuhkan dekapan Jorji asalkan alat suntik dan obat itu ada bersamaku. Setelah aku menyintikkan obat itu di tanganku, maka tidak ada orang yang bisa menyakitiku. Aku sangat kuat bahkan jika mama dan papaku tidak bersama lagi, aku yakin bisa bertahan hidup.
Akan tetapi kekuatan itu tidak bertahan lama, aku aku menjadi manusia yang ketergantungan dengan alat dan benda itu. Bila aku tidak mengkonsumsi barang haram tersebut aku merasakan sakit kepala yang begitu luar biasa hebatnya, mendera di kepalaku bagai ledakan bom atom. Aku mulai melakukan apapun untuk mendapatkan kekuatanku kembali.
Dekap langkah kaki orang di luar kamar kostku samar-samar terdengar di kedua telingaku. Tanpa niat untuk memperdulikan suara itu, justru kulanjutkan tingkahku. Di dalam ruangan bagai surga untukku. Aku tengah itu sibuk berada di salah satu sudut kamar yang menajadi tempat favoritku, dengan kedua alat yang begitu berharga untuk hidupku. Dari kedua alat sederhana itu aku menggantungkan kebahagiaan di dalam hidupku. Ketika alat itu bersatu bersama tubuhku aku mendapatkan sesuatu yang sangat nikmat untuk kulitku dan lubang hidungku. Kedua alat tersebut adalah jarum suntik serta alat penghisap barang haram yang hampir dua setengah tahun ini kubawa  di dalam saku celana dalamku.
Jorji selalu membawakan obat itu dan memberi semenit dekapan. Aku tidak puas dengan dekapan itu karena sudah tidak berarti lagi. Aku meminta Jorji membawakan laki-laki lain untuk menyayangiku lebih darinya. Setiap laki-laki yang datang mendekapku selalu memberi kekuatan, tetapi aku ingin lebih. Untuk mendapat alat dan obat terlarang aku harus bersedia didekap oleh laki-laki yang tidak kukenal. “Bukankah aku memerlukan kasih sayang?” begitu pikirku untuk menyenangkan Jorji.
Aku tidak berprestasi lagi.  Beberapa kali  aku mengkonsumsi dan menggunakan barang haram tersebut di salah satu pojok kamar mandi sekolah yang menjadi tempat favoritku. Setiap jam istirahat tiba aku mulai beraksi dengan barang dan alat haram tersebut. Secara perlahan aku mulai menyuntikkan suatu cairan ke dalam tubuhku. Ketika cairan itu sudah menyatu dengan darah yang terdapat di dalam tubuhku, aku membawa diriku melayang dan melupakan masalah yang aku hadapi. Tak hanya sampai di sana, jika cairan itu sudah menyatu bersama nadiku, aku tidak takut lagi kalau guruku marah karena aku tidak bisa berhitung lagi. Aku lupa cara menyatukan huruf-huruf agar bisa kubaca. Aku perlahan mulai menebar bubuk dan kemudian menghirupnya menggunakan alat hirup mungil yang aku miliki hanya sekadar untuk melupakan bahwa diriku telah menjadi orang idiot. Hal yang aku rasakan setelah menghirup bubuk tersebut adalah aku tidak lagi melihat wajah mama dan papa yang sedang bertengkar. Aku juga lupa dengan wajar Jorji yang polos. Aku tidak bisa menyapa guru atau teman yang melintas di hadapanku. Aku merasa hidup sendiri dan bahagia. Aku tidak memerlukan orang lain, kecuali alat hisap dan alat suntik narkoba.
Suara sepatu kayu samar-samar mendekat, sekilas terdengar di telingaku dengan mengetuk-ngetuk lantai. Seorang wanita berperawakan cantik menggiringku ke ruang kepala sekolah.Sedikitpun aku tidak merasa malu digiring ke ruang kepala sekolah. Aku tidak melihat jelas wajah para guru. Yang kuingat hanya satu wajah polos, Jorji.  Seseorang yang sudah kuanggap bagaikan saudara sendiri. Hanya dia yang menyelamatkan aku dari penderitaan. Semua orang hanya mengejekku.
“Apa yang kamu lakukan Angel?” tanya kepala sekolah.
“Tidak! Jangan panggil aku dengan sebutan Angel!”
Kudengar guru-guru berbisik-bisik, mungkin menganggapku gila. Aku tidak peduli. Aku hanya tidak ingin dipanggil dengan nama Angel. Kedua orangtuaku memberikanku nama Agel agar kelak aku juga bisa menjadi seorang “Angel” dalam kehidupan mereka. Namun, justru aku mempermalukan dan membuat kecewa keluargaku dan diriku sendiri. Aku bukan Angel lagi. Tidak ada orang yang berhak memanggil namaku. Hanya ketika Jorji datang, dia harus memberi nama baru kepadaku.
Jorji tidak datang ke ruangan ini. Aku telah diejek. Tampak bibir mereka monyong dan miring ke kanan dan ke kiri. Aku begitu jengkel, tetapi obat telah membuatku menjadi lebih tenang. Aku tidak tahu apa yang mereka katakan. Sejenak, kudengar suara bel dengan lagu yang sangat indah memintaku masuk kelas. Aku berabjak dari tempatku duduk.
“Berhenti Angel!” kata kepala sekolah.
“Jangan panggil namaku!” jawabku dengan ketus.
“Lalu bagaimana kami memanggilmu?”
“Tidak usah dipanggil, aku mau belajar di kelas. Ibu guru Bahasa Indonesia sudah menungguku di kelas.”
Semua orang tertawa dan aku semakin marah kepada mereka karena telah menertawaiku yang sedang serius ingin belajar.
“Berhenti!” kata kepala sekolah yang duduk paling berbeda di atas kursi empuk.
Aku tidak berhenti. Para guru menangkapku.
“Ada yang berbeda dari kelakuanmu, kamu tahu itu?” kata kepala sekolah kepadaku saat kedua tanganku dipegang beramai-ramai.
“Berhenti bersekolah di sini atau kamu akan kami bawa ke polisi kalau tidak memperbaiki kelakuanmu!” kata kepala sekolah membisiki telingaku.
Aku ingat bahwa sekolah tidak boleh memcat siswanya dengan alasan apapun. Aku dengar dari rapat-rapat. Saat itu aku masih menjabat sebagai ketua OSIS dan kami mempersiapkan peralatan rapat juga mendokumentasikan kegiatan rapat. Aku paham maksud kepala sekolah bahwa sebelum aku dipecat, aku harus memundurkan diri.
***
Tanpa menunggu pemecatan surat dari sekolah, aku berinisiatif untuk menuliskan surat pengunduran diri. Mungkin benar kata mereka bahwa aku menyalahkan orang lain demi keinginanku sendiri. Mungkin aku hanya mengkhayal, sebab penyelidikan sekolah tidak menemukan apapun di kamar kostku, kecuali kamar yang berantakan, alat suntik dan obat terlarang. Namun, karena kepala sekolah tidak ingin sekolahku masuk koran, sungguh beruntung aku tidak dilaporkan ke polisi. Perjuangan yang sesungguhnya baru kumulai. Aku harus membuat surat pengunduran diri tanpa cerita yang mencemarkan nama baik sekolah, Jorji, atau orangtuaku.
Aku bingung harus menulis apa? Alasan apa yang harus kugunakan untuk memundurkan diri? Jika kukatakan bahwa orangtuaku sudah tidak sanggup membiyayai sekolahku, tentu sekolah akan memberiku beasiswa dan aku harus tetap sakau di kamar mandi setiap jam istirahat – jelas itu dilarang! Jika aku mengatakan bahwa aku bosan belajar di sekolah itu, tentu itu berarti ada yang tidak beres dengan sekolahku sehingga aku tidak betah belajar. Jika kukatakan bahwa aku malas belajar, tentu orangtuaku akan sangat bersedih karena hanya aku satu-satunya alasan mereka bertahan untuk tidak bercerai dan mereka punya harapan agar aku bisa memperkuat usaha mereka yang dimulai dari nol.
Aku rindu kisah lampau. Sayangnya, double folio telah menunggu sebuah kisah baru. Kisah apa yang harus kuceritakan kepada kepala sekolah, para guru, teman-temanku, dan kedua orangtuaku pada selembar surat pemunduran diri? Tidak ada kisah yang bisa kuceritakan sebagai alasan pemunduran diri. Wajahku kusut. Kisah itu larut menjadi te





SEKOLAH : SMK NEGERI 3 SINGARAJA
ALAMAT : JALAN HASANUDIN  SINGARAJA


Jumat, 08 Agustus 2014

Kompor Gas_Cerpen



KOMPOR GAS

Sahdan terlaksanalah keinginan istri saya untuk memiliki kompor gas dengan dua nyala. Impian itu sudah lama selalu mengusik hatinya. Maka, ketika honorarium pekerjaan terjemahan dari hasil penelitian Mevrouw Vochig Okselen tentang konsep harmoni orang Jawa datang, istri saya segera membayar kompor gas dan tabungnya dengan kontan. Anak-anak dan saya sangat gembira melihat ia berbahagia. Bahkan saya sangat terharu. Betapa tidak! Walaupun kompor gas itu dibeli dengan uang hasil jerih payahnya sendiri, istri saya membayangkan seakanakan barang luar biasa dahsyat itu hadiah dari saya. Ia juga minta agar anak-anak membayangkan begitu. Mungkin istri saya melihat apa yang disebut hidup adalah jalinan antara kenyataan dan impian. Saya menerima realitas itu tanpa perasaan getir; seorang suami terkadang hampir sekadar lambang.

Maka, dengan semangat tinggi, pagi itu, saya membantu membersihkan rumah; menyapu halaman dan lantai. Sambil bersiul keroncong petir, saya berjanji dalam hati bahwa saya akan mencari pekerjaan tambahan di samping tugas rutin saya. Siapa tahu saya kelak bisa menabung. Kepingin benar saya membelikan mesin tulis, meja tulis, kursi, dan lampu duduk untuk istri saya. Kepingin benar saya melihat dia bahagia dengan tugasnya sebagai penerjemah. Ah, betapa malasnya saya selama ini. Sungguh mlekocot saya! Di luar kerja kantor, tak pernah terbetik dalam benak mencari tambahan rejeki.

Melepaskan lelah sehabis “bekerja keras” menyapu halaman dan lantai, saya duduk di kursi teras. Hujan semalam tampak masih berbekas. Daunan basah, dan butir-butir air gemerlap kena cahaya matahari pagi. Kupu-kupu beterbangan kian kemari dengan warna-warni. Terlintas dalam pikiran, alangkah ajaib jenis binatang yang satu ini. Tak bersuara, tak bersengat, tak menganggu. Begitu rapuh tubuhnya, tapi begitu mempesona warnanya. Saya mencoba menebak pesan Tuhan di balik kehadirannya.

Jam dinding mengeleneng satu kali. Saya tersentak. Saya tahu. Saya harus segera mandi dan lari ke kantor. Sudah terlalu sering saya diperingatkan Pak Sabar karena saya hampir selalu terlambat setiap hari. Saya berdiri sambil menghirup udara segar.

“Kula nuwun” seorang lelaki setengah baya tiba-tiba muncul di pintu halaman. Lelaki itu menyandarkan sepedanya dengan tiga jeringen minyak tanah di bagasinya. Sebelum saya mendekatinya, lelaki itu langsung bertanya apakah minyak tanah di dapur masih cukup. Tiba-tiba saya gugup. Dengan spontan saya jawab bahwa minyak tanah kami masih cukup.

“Mungkin seminggu lagi, Mas,” jawab saya. Lelaki itu mengangguk, menuntun sepedanya dan mendorongnya. Ada perasaan menyesal menyelinap di hati saya. Seandainya saya tidak harus pergi ke kantor, mungkin saya bisa mengajaknya duduk-duduk barang sejenak sambil menikmati kopi. Tetapi gagasan yang selalu saya rencanakan itu tak pernah terlaksana. Secara tidak saya sadari, ternyata, saya selalu mendapatkan dia sebagai kurang penting. Dan ketika saya menyadari bahwa kemarin istri saya membeli kompor gas, makin terasa, lelaki itu makin tidak penting. Dia hanya bagian dari teknologi memasak yang kini mulai ketinggalan zaman. Mas Marta Lenga, demikian nama lelaki itu, akan dilupakan ketika ibu-ibu mulai tidak mengenal kompor minyak. Kemajuan zaman telah meninggalkannya. Tujuh belas tahun lalu, tatkala istri saya mulai mengenal kompor minyak, teman saya lain, Pak Karta Areng, tersingkir. Saya bayangkan, kelak, jika kompor listrik mulai merata digunakan orang, Den Harja Gas, calon langganan kami, mungkin akan tersingkir pula. Sejarah telah melahirkan orang tampil dan kemudian membantingnya. Saya mencatatnya dengan tekun. Seperti angin, mereka datang dan lenyap.

Akan tetapi, berbeda dengan Pak Karta Areng, Mas Marta Lenga terasa lebih menggelisahkan saya. Mungkin karena dia selalu tersenyum dan tak pernah mengeluh. Tubuhnya selalu basah oleh keringat dan minyak tanah. Giginya selalu kotor, dan selalu ada sisa-sisa makanan di antara sela-sela.

Dua puluh tahun yang lalu, ketika saya baru datang sebagai penghuni baru di kampung itu, Mas Marta adalah partner saya beronda. Waktu itu, Mas Marta adalah seorang penjaga sepeda di sebuah kantor. Sementara itu, istrinya mempunyai sebuah warung kecil yang menjual berbagai macam kebutuhan sehari-hari. Ketika orang makin banyak menggunakan kompor minyak, warung itu perlahan-lahan berubah menjadi semacam agen kecil minyak tanah. Agen itu pernah menjadi besar, banyak pegawai yang mengantar minyak tanah kepada langganan-langganan di kampung saya dan sekitarnya. Akan tetapi pula, kebesarannya tidak bisa bertahan lama.

Seingat saya, menurunnya langganan Mas Marta justru ketika rumah-rumah baru megah mulai dibangun, dan rumah-rumah gaya lama dipugar. Mungkin, dengan arsitektur ala Spanyol, dengan kamar mandi model seperti yang di hotel-hotel mewah, kompor minyak terasa kurang up-to-date. Dan bersamaan dengan itu pula, mobil yang menjajakan gas mulai sering lewat.

Tetapi Mas Marta, walaupun makin jarang lewat di depan rumah, tetap berkunjung ke rumah kami setiap dua minggu. Pernah sekali dia bercerita bahwa daerah jelajahnya makin luas, tetapi justru karena daerah langganannya bukan makin meluas. Semula saya kurang paham dengan ceritanya. Baru sekarang saya mengerti, langganannya kini adalah orang-orang yang tinggal di pedukuhan. Dengan makin luasnya daerah jelajah, makin sedikit minyak yang terjual. Sebab untuk bolak-balik membawa tiga jerigen minyak di atas bagasi sepeda, Mas Marta tak cukup kekar. Dia tidak memiliki otot seperti yang dimiliki Mike Tyson. Karena itu, setiap hari ia hanya mampu menjual enam jerigen minyak tanah. Ini artinya, dia bolak-balik pulang dua kali. Itu pun kalau hari tak hujan.

Tepat pukul lima sore, seperti sudah direncanakan, istri saya dan saya tiba di rumah Mas Marta. Kami disambutnya dengan sangat ramah, walaupun ada kesan mereka sedikit kaget. Dengan tergopoh, istri Mas Marta segera menyiapkan teh dan kue-kue, dan ditaruhnya di atas meja. Saya memandang sekeliling ruang tamu. Pada dinding bambu, tergantung gambar-gambar tokoh wayang, seperti yang saya lihat d.ual di sepanjang Malioboro. Saya membayangkan, jika Mas Marta ternyata pengemar wayang kulit, mungkin sekali waktu bisa saya ajak begadangan nonton bersama.

Dengan sangat hati-hati, saya mulai menjelaskan alasan saya berkunjung. Juga mulai saya terangkan bahwa mungkin kami tidak lagi memerlukan minyak tanah.

“Wah, Ibu sudah punya kompor gas, ya?” katanya menyambut gembira. Saya kaget. Istri saya mengangguk. Yang lebih mengejutkan saya, Mas Marta bahkan berkata bahwa ia ikut gembira karena kami sudah mempunyai kompor gas itu.

“Kami selalu prihatin selama ini karena di kampung Bapak tinggal ibu ini yang belum memasak dengan kompor gas,” sambung istri Mas Marta. Lalu Mas Marta mulai menerangkan bahwa sudah beberapa bulan dia memikirkan untuk berhenti berkeliling menjajakan minyak tanah. Alasannya, langanan makin berkurang.

“Tapi kami tidak sampai hati. Sebab kalau kami berhenti jualan minyak, Bapak dan Ibu masak pakai apa, coba?” katanya. Saya tertegun.

“Apa mau buka warung lagi?” tanya istri saya sambil mengipas-ngipaskan saputangan. Istri Mas Marta menggeleng, dan Mas Marta sendiri tersenyum. Tersenyum lebar-lebar. Gila! Pikir saya. Begitu hebatnya orang ini berhadapan dengan nasib berselubung perubahan zaman yang mempermainkannya.

“Mungkin mau buka kos-kosan?” sambung saya bertanya. Mas Marta menggeleng tiga kali. Istri Mas Marta menggeleng empat kali. Pertanyaan ini saya dasarnya atas informasi Marsengax, seorang mahasiswa Fakultas Hukum, yang pernah ditawari sewa kamar oleh Mas Marta. Di samping itu, istri Mas Marta pernah menawarkan sawahnya yang tak begitu luas di Desa Bulu kepada ibu saya beberapa tahun yang lalu.

“Daripada dibeli orang yang enggak–enggak,” katanya pada waktu itu. Kalu benar Mas Marta mau buka kos-kosan, pastilah sawah itu sudah laku dan uangnya dipergunakan untuk memperluas rumah dan menemboknya. Tapi ternyata tidak.

“Lalu, Mas Marta mau jualan apa?” desak saya tak tahan. Mas Marta, sekali lagi, tersenyum lebar. Senyuman yang penuh optimisme.

“Pakne ini, sekarang,’kan sering didatangi orang. Apalagi kalau malam Jumat Kliwon,” kata istrinya.

“Maksudnya menjadi dukun?” tanya istri saya. Istri Mas Marta menggeleng.

“Sekali waktu Mas Marta melihat laba-laba kakinya tinggal tujuh. Ee, lha kok esoknya keluar dengan kepala tujuh!”

“Kepala apa?” tanya istri saya penuh heran.

“Itu, nomor!” tukas Mas Marta. “Dan ketika saya bilang kepada Dik Srundeng bahwa nomor yang akan keluar persis dengan nomor motor Pak Sardula, ee, nembus betul.”

Saya tertegun.

“Lha, mulai saat itu, banyak orang datang kepada kami minta nomor. Kalau mereka datang, biasanya membawa gula, teh, kopi, rokok, terkadang beras, roti kalengan, dan juga uang,” sambung istri Mas Marta. “Lumayan sekali. Tak usah kerja, rezeki datang sendiri.”

Saya tertegun.

“Kalau Bapak mau, bisa saya beri kapan-kapan,” kata Mas Marta.“Kan tinggal bapak yang belum punya mobil. Siapa tahu, nomor yang saya pilih nembus.”

Saya tertegun. Istri saya makin sibuk mengipaskan saputangannya. Udara pasti terasa gerah baginya karena dia harus menyadari betapa suaminya selama ini kurang agresif memburu rezeki. Betapa berat, saya bayangkan mengakui kemalasan suaminya.

Romlah, anak bungsu Mas Marta muncul. Segera istri saya menyerahkan bingkisan kecil. Juga untuk istri Mas Marta.

“Kok repot-repot,” tukas istri Mas Marta. Lalu kami minta pamit, dengan alasan saya masih banyak pekerjaan. Dan sebelum saya sampai di pintu, Mas Marta membisikkan sesuatu ke telinga saya. Saya mengangguk dan mengatakan terima kasih.

Ketika kami tiba di rumah, saya gantian membisikkan sesuatu ke telinga istri saya.

“Apa?” tanya istri saya. “Kepala delapan?”

(Dikutip dari karangan: Bakdi Soemanto D.
dalam buku Menulis Secara Populer, Ismail Marahimin )

Siti_Cerpen



S I T I

Tadi pagi aku ngamuk. Rasanya ini amukanku yang terdahsyat sepanjang sejarah. Keseeel ..... banget. Sumbernya, yah, siapa lagi kalau bukan si Siti. Itu pembantu baru yang kelakuannya suka bikin takjub orang serumah. Bayangkan saja, masak draf paper kewiraan yang sudah setengah mati kubuat, seenaknya saja dia lempar ke tempat sampah. Dia tidak tahu berapa besarnya pengorbananku untuk membuat paper itu.

Tiga malam nyaris tidak tidur. Bahkan Hunter, pujaan hatiku yang setiap Minggu malam selalu kunantikan kehadirannya, kali ini terpaksa aku cuekin. Eh ..... tahu-tahu hasil kerja kerasku itu dilempar ke tempat sampah. Gimana aku tidak kesal setengah mati. Dasar bego si Siti itu. Aku ‘kan sudah wanti-wanti ribuan kali agar dia jangan sekali-kali menyentuh kertas-kertasku. Biar kamarku berantakan kayak kapal pecah juga, nggak apa, asal kertas-kertas berhargaku aman. Siti, Siti, kamu kira gampang bikin paper, segampang bikin sambal terasi?

Si Siti ini memang lain. Umurnya baru sekitar delapan belas tahun, sedang centil-centil-nya. Kerjanya sih cukup lumayan. Dia juga cukup rajin. Cuma yang namanya centil ..... aujubilah, deh. Setiap pagi kalau ayahibuku sudah berangkat kerja, dia selalu menyetel dangdut di ruang tamu, keraaaaas ..... banget. Mau tuli rasanya kuping mendengarkan lagu-lagu supernorak itu. Kepala pun jadi pusing. Paling malu kalau ada teman yang telepon. Pasti yang nelpon langsung komentar, “Eh, ketahuan, ya, kamu suka lagu gituan. Ngaku aja deh.”

Belum lagi kalau teman-teman datang. Dia mulai bertingkah kayak cacing kepanasan, sibuk cari perhatian. Apalagi kalau yang datang itu cowok, wah, langsung resek, deh, dia, ketawa-ketawa centil dengan suara cempreng-nya. Ingin rasanya aku bentak dia. Sayang Ibu selalu melarang, “Sabar, Rit,” kata Ibu berulang-ulang.

Penyakit si Siti bukan cuma centil saja. Dia juga superbego. Disuruh ini, dia kerjakan yang lain. Pernah ketika Ibu mau pergi ke pesta, si Siti disuruh menyetrika gaun yang akan dipakai. Tahu apa yang dilakukannya? Itu baju malahan dicuci! Sinting nggak tuh? Pernah dia kusuruh membeli Sunsilk, eh, pulang-pulang dia membawa semangkuk mie pangsit!

Selama hampir empat bulan dia bekerja, entah sudah berapa kali dia memperlihatkan kebegoannya. Bukan sekali dua kali aku dibuatnya senewen. Tapi yang dilakukannya tadi pagi betul-betul sudah keterlaluan dan aku tidak tahan lagi untuk tidak memakinya. Semua kejengkelanku harus kutumpahkan, kalau tidak, bisa aku yang gila. Ya, tadi pagi Siti kubentak-bentak sepuas hati. Semua koleksi kata-kata kasarku kukeluarkan. Seisi kebun binatang Afrika kusebut satu per satu.

Si Siti menunduk. Entah dia menyesali perbuatannya, entah mengumpat di dalam hati, aku tidak peduli. Tidak sedikit pun tersirat rasa kasihan di hatiku. Yang ada saat itu hanya kemarahan yang meluap-luap.

Dar.. Kewiraan yang sudah lecak kupungut dari tong sampah dan kuseterika. Dengan susah payah aku berusaha mengenali kembali huruf-huruf yang ada di situ, dan aku salin lagi ke kertas baru.

.......................

 Ting-tong.

Wah siapa yang siang-siang begini bertamu, pikirku. Ketika pintu kubuka, Evi, Uci, Tini, dan Ani cengar-cengir di hadapanku. Tanpa dipersilahkan, mereka langsung nyelonong masuk ke ruang tamu. Keempat kuya ini memang sobat-sobatku, dan tidak malu-malu lagi.

“Aduh ....., panas betul, Rit. Minta minum, dong, yang pake es, ya? Siropnya cherry kalau ada,” kata si Ani.

Buset, kebiasaan jelek si Ani belum hilang juga. Selalu minta suguhan begitu masuk rumah. Biasanya aku tinggal suruh si Siti saja, tapi kali ini aku sendiri yang terpaksa membuat minuman.

“Koq sepi, sih, Rit?” Evi bertanya.

“Pada lagi liburan, di Bandung. Gue nggak ikut karena ngebela-belain bikin paper Kewariaan, ndak tahunya pas dar..-nya jadi, eh, dibuang si Siti ke tempat sampah. Sial banget, deh.”

“Ya, ampun! Sinting banget, sih, pembokat elo! Gile, kalo gue jadi elo, sih, nggak tau, deh, gue bakalan mencak-mencak kayak apa,” kata Uci.

“Uh ....., tadi pagi juga gue udah ngamuk berat. Terus, tahu nggak gimana reaksi si Siti? Ha, pasti elo nggak nyangka, deh. Sekarang dia lagi ‘pesiar’ dalam rangka melancarkan aksi ngambek-nya,” kataku kesal.

“Lho, jadi dia sekarang nggak ada di rumah?”

Aku mengiyakan.

“Ck ..... ck ..... ck ..... Hebat banget pembantu elo! Bener-bener sinting tulen. Udah, pecat aja, deh, pake susah-susah segala,” kata Ani bersemangat.

 “Memang gue udah mikir begitu. Pokoknya, begitu nyokap bokap gue pulang, langsung gue laporin, deh, si Siti. Biar tahu rasa kalau dipecat,” kataku.

“Eh, jangan langsung dipecat dulu,” kata Tini memberi saran.

“Emang kenapa ?” tanyaku heran.

“Elo kira gampang cari pembantu sekarang? Maksud gue yang orang baik, gitu. Jangan-jangan elo bakalan dapat yang lebih brengsek. Bisa runyam, ‘kan?” Tini ber-celoteh panjang-lebar.

“Iya juga, sih. Hati-hati, lho, pembantu sekarang banyak yang nggak jujur. Tetangga gue aja barusan kemalingan. Malingnya nggak jauh-jauh, pembantu sendiri, yang habis nyopet langsung kabur,” tambah Evi.

“Soal pembantu suka nyolong, sih, nggak jauh-jauh. Itu si Sum pembantu di rumahku yang tampangnya ndeso banget dan tak pernah bertingkah macam-macam, taunya dia itu tangannya panjang. Di rumah gue nggak boleh narok apa-apa sembarangan. Bisa langsung lenyap tanpa bekas!” cerita Uci.

“Kenapa nggak dipecat saja ?” tanyaku.

“Susah, Rit, nyari pembantu sekarang. Nyokap gue lagi nyari, tapi belum ketemu. Kita nggak mau ngambil pembantu dari penyalur, soalnya banyak yang mengeluh tentang pembantu yang diambil dari sana. Jadi, sementara ini si Sum tetap saja dipakai. Paling-paling sekarang kita yang harus ekstra- ati-hati. Lagipula dia ‘kan nggak bakalan berani ngambil yang gede-gede,” kata Uci lagi.

“Ngomong-ngomong, kita pulang yuk,” kata Ani. “Tadi kita kesini ‘kan cuma mau minta minum gratis, habis jalan-jalan dari Blok M.”

Teman-temanku pulang. Aku sendiri lagi. Gelas-gelas kotor kubawa ke dapur. Buset, makin banyak saja yang kotor. Kucuci semua, kususun di rak piring. Lalu aku ingat air minum sudah habis, dan aku juga harus masak nasi untuk makan malam. Selesai melakukan kedua hal itu, aku teringat lagi bahwa tanaman di taman belum disiram, dan ikan-ikan di kolam belum diberi makan. Wah capek juga rasanya.

Aku jadi ingat, si Siti pasti tiap hari capek sekali melayani seluruh kebutuhan keluarga kami. Mulai dari subuh sampai malam. Salah sedikit nggak apa-apalah. Toch dia juga baru sekitar empat bulan bekerja, jadi belum erlalu berpengalaman. Aduh, tiba-tiba aku jadi kasihan sama si Siti. Pasti dia sakit hati kubentak-bentak dengan kata-kata kasar tadi pagi. Memang, sih, dia salah. Tapi mestinya aku ‘kan bisa menggunakan kata-kata yang lebih ‘beradab’ untuk memperingatkannya.

Hari semakin malam.

Siti ....., ke mana, sih, kamu? Pulang, dong!

(Dikutip dari tulisan Maria Margareta Manuwembun
dalam buku Menulis Secara Populer, Ismail Marahimin)

Jumat, 03 September 2010

Kota Senyum



Oleh Luh Arik Sariadi

Sari, kuperkenalkan namaku kepada setiap senyum bahagia. Hari Selasa, seorang laki-laki datang ke rumahku. Ia dari kota, kota Senyum. Lelaki bermata tajam datang dari kota itu hendak mencari pengantinnya di desa yang kering ini. Desaku sangat kering hingga setiap bunga yang berhasil melewati musim kemarau tumbuh dengan bunga beraneka nama dan beribu kumbang berebut mengisap madunya. Hanya angin yang tiba-tiba menyelamatkan bunga dari kumbang sebab madu telah tumbuh menjadi biji dan jatuh ke tanah. Yang jatuh itu akan bahagia karena tumbuh lagi. Namun yang terhisap sebelum pembuahan, madunya telah hilang. Manisnya telah lenyap. Hanya tubuhlah yang tampak memberinya semangat bertahan melewati musim. Dan, akulah kembang itu, terhisap saat malam menyergap lalat-lalat. Esoknya, jejak-jejak lalat itu tak habis terhapus selama dua, tiga, bahkan belasan cuaca yang telah mengubah kota Senyum menjadi sebuah dongeng.
”Kota Senyum, pasir putih dan ombak yang teguh membanting angin,” kata Tut De. Saat aku memperkenalkan diri, ia banyak bercerita tentang kota itu. Ia pernah berjanji akan mengantarku melihat kotanya. Tidak ada dermaga, tetapi banyak orang berlabuh di kota itu. Tidak ada perahu di pantai kota itu, tetapi banyak kelompok masyarakat mengail uang di sana. Tidak ada sampan yang terikat di pohon-pohon tua, tetapi sepasang kekasih sering bertekad menerjang laut menuju impian. Tidak ada ruang kosong di pasir-pasir, tetapi pantai itu telah jadi rumah bagi jiwa-jiwa yang bebas. Berbagai senyum yang terjerat air laut pasang menyatu di tepi-tepi gelap, dan teriaknya membuat kota itu lebih dikenal sebagai kota senyum, entahlah.
Di kota itu, bocah-bocah kecil tak perlu menadahkan tangannya untuk mendapatkan uang dari orang yang punya rezeki lebih. Bocah-bocah kecil boleh bertugas sebagai sebuah strobery pada segelas juss. Mereka boleh berlarian menghamburkan pasir di kota itu.
Kota Senyum menyediakan berbagai merk minuman dari berbagai negeri. Tut De terus bercerita tentang kota kelahirannya. Ia sangat fanatik terhadap softdrink. Hanya satu perusahaan yang dipercayai menghasilkan minuman yang membasuh bibir tebalnya. Itu semata-mata karena ayahnya bekerja di perusahaan itu. Bukan, karena ia mencintai produk dalam negeri atau ingin mengikuti anjuran iklan di televisi yang dibintangi oleh artis-artis terkenal seperti Agnes Monica atau Luna Maya. Hah, dia pastinya seorang yang fanatik!
”Kalung-kalung yang dijual di kota itu adalah kalung-kalung yang bisa memberi faedah. Bisa membuat orang sukses. Aura setiap pemakainya akan terpancar binal. Kamu boleh membeli kalung yang terbuat dari karang-karang, nanti aku yang bayar,” katanya pelan sembari mengenduskan hidung saat kusuguhkan secangkir kopi. Aku belum menjawab tawarannya, belum bilang bersedia ikut ke kotanya atau tidak, tidak menganggukkan kepala saat ditawari cerita kalung.
”Wangi farfum yang melekat di tubuhmu, serupa serpihan angin tatkala para dewi mencuci rambut di telaga di kotaku,” bisiknya menggoda aku yang sedang berpikir dan menimbang-nimbang tawarannya.
***
Ia mengatakan diriku seperti bayi, bahkan berkali-kali menyebutku bayi. Katanya itu panggilan sayang untukku. ”Yi...Yi...” Memangnya mengapa bayi itu? Kami tidak bersahabat lagi. Tut De lebih memilih menghinaku lewat SMS. Kalau kami bertemu, Tut De selalu berbicara yang indah-indah. Ia sangat cerdas. Ia tahu semua lorong di kota Senyum. Dengan lesung pipinya, aku tidak pernah menamparnya meski ia selalu mengucapkan kata-kata aneh di SMS atau surat. Saat bertemu, aku selalu suka ucapannya. Manis! Namun, aku tidak boleh tergoda lagi.
Sekali lagi aku mengatakan dalam hatiku bahwa aku tidak suka disebut bayi. Aku seorang sarjana. Aku punya banyak relasi. Aku bekerja dengan tanggung jawab. Aku bisa menyelesaikan pekerjaan dengan sangat cepat dan tepat. Jika atasanku menugaskan aku untuk melakukan penelitian di kelas yang aku ajar, aku bisa menyelesaikannya. Berkali-kali aku telah memperoleh juara menulis penelitian tindakan kelas sehingga mampu mengharumkan nama sekolah tempatku bekerja. Aku telah pula mengantarkan siswa-siswaku dalam olimpiade-olimpiade dan mereka selalu mendapat juara, meski tidak selalu mendapat juara I. Waktu ada sertifikasi guru honor, aku mendapat nilai yang paling besar. Fortofolio yang aku kumpulkan dengan sungguh-sungguh tidak diragukan lagi. Semua sertifikat dan piagam penghargaan aku dapatkan dengan kerja keras. Penilai, satupun tidak membubuhkan kata ”palsu” pada fortofolioku. Semuanya asli! Jadi, apa aku bayi?
Makanya aku tidak mengerti mengapa Tut De selalu menatapku sebagai bayi. Kata bayi diucapkan sambil tertawa sangat menyesakkan bagiku. Dan, aku memilih berpisah darinya meski hanya pisah ranjang. Di ranjang yang berbeda pada rumah yang sama, kami selalu SMS-an. Tak pernah ada dialog langsung. Hubungan kami renggang.
Setiap malam, setelah ia datang dari pekerjaannya mengejar target berita, ia tidak pernah lupa kirim SMS tentang kota Senyum, kota kelahirannya yang sempurna. Aku selalu tertarik dengan kota Senyum karena semenjak menikah dengannya, sekalipun aku tidak pernah diajak berkunjung ke kota itu.
Kami berdebat tentang kota Senyum dan selalu berakhir dengan amarah. Aku tidak suka ia menceritakan kota itu lagi karena kota itu seperti imajinasi saja.
Aku punya niat bertanya tentang kota Senyum ke setiap orang di kantorku. Karena aku hanya ingin mengecek keberadaan kota itu, aku betul-betul berlaga bodoh kepada orang-orang.
”Pak Gusti, kota Senyum itu seperti apa?” tanyaku kepada soulmate-ku. Paling tidak dialah orang yang paling dekat denganku untuk sementara. Aku percaya ia akan memberiku jawaban yang sebenarnya dan pasti sangat lengkap. Pak Gusti, sering membantuku dalam menyelesaikan tugas-tugasku di sekolah. Barangkali karena usianya yang sangat besar, ia tahu banyak hal. Pengalamannya banyak. Ia sering dikirim ke kota metropolitan untuk mengikuti pelatihan. Putra sulungnya juga bertugas di kepolisian. Pasti Pak Gusti mengetahui kota Senyum.
”Kota Senyum pasti mengenalku, hingga kamu tanya itu kepadaku, bukan?” tanyanya memberi jawaban atas pertanyaanku.
”Yah, saya tidak tahu, mengapa Pak tanya lagi ke saya?”
”Ha-ha, jadi tidak tahu kota itu?”
”Tidak.”
”Betul-betul tidak tahu?”
”Betul.”
“Pak hanya tahu kota itu pernah menjadi kota terlarang. Pemerintah pusat pernah melarang setiap orang yang hendak pergi ke kota itu. Pemerintah menyiarkan bahwa ada wabah di kota itu.”
”Wabah?” tanyaku heran dan betul-betul heran. Selama aku membicarakan kota itu bersama Tut De, suamiku, dia tidak pernah menceritakan bahwa kota itu pernah kena wabah. Lantas, aku bertanya-tanya mengapa Tut De tidak pernah menceritakannya. Mengapa memangnya wabah itu tidak diceritakan. Itukah sebabnya, Tut De tidak pernah membawaku ke kota Senyum?
”Pak, sekarang saya ada jam mengajar. Nanti saya bertanya lagi. Tidak keberatan kan?”
“Tentu.”
Sejak itulah, pertemuanku semakin intens dengan Pak Gusti. Kami membicarakan kota Senyum setiap ada waktu. Bahkan, Pak Gusti bersedia meluangkan waktu istirahatnya untuk menamaniku membahas kota Senyum. Seusai menjemput istrinya, ia datang ke lapangan tenis. Aku ingin tahu banyak tentang kota Senyum, makanya aku segera membeli seragam olah raga dan alat-alat tenis. Aku menunda pekerjaan sore yang bisanya aku kerjakan setelah istirahat siang. Aku bermain sedikit saja. Aku bukan olahragawan. Alasanku bermain tenis hanya ingin mengetahui kota Senyum. Nanti setelah aku tahu kota senyum, aku tidak akan berolahraga lagi.
Menjadi olahragawan sangat berat. Aku lebih suka duduk di depan laptop dan menjelajahi dunia maya. Aku tak pernah takut terkena penyakit pinggang, alat pencernaan atau penyakit-penyakit yang menyertai kebiasaan duduk lama di depan laptop. Dan, selama ini aku sangat senang dengan hidup karena aku punya dunia baru. Aku tidak perlu takut kehilangan orang-orang yang berada di dekatku. Hah, kalau saja dunia maya bisa menjelaskan keberadaan dan keadaan kota Senyum, tentu aku tidak perlu menjadi olahragawan. Aku tidak perlu mengeluh sakit pinggang atau sakit pergelangan karena memukul bola yang berat. Belakangan, aku menyesal mengapa aku membuang waktu untuk menegangkan ototku. Membuang gaji honorku untuk membeli peralatan olahraga. Dan, membiarkan aku terlibat dalam gosip-gosip yang menyakitkan.
Menurut mereka, aku perebut suami orang! Aku dijauhi oleh orang-orang yang selama ini kuajak membuat proposal untuk memperoleh dana block grant yang diperuntukkan bagi pengembangan sekolah menengah kejuruan. Kepala sekolah juga telah memperingatkanku dengan nada ancaman. Katanya ada yang melaporkan gerak-gerikku. Kepala sekolah tahu semuanya yang tidak mungkin semua benar. Karierku betul-betul diujung tanduk!
Malam-malam, saat aku bermimpi untuk kali pertama pada tidurku suatu hari, suamiku SMS.
”Sudah kau kunjungi kota Senyum itu?”
”Mana mungkin? Kau hanya punya cerita, tetapi tidak pernah mengantarku ke sana.” jawabku kepadanya dengan tanda seru lebih dari sepuluh.
”Masak?”
”Maksudmu?”
”Bukannya kamu punya lelaki tua sekarang?”
”Lelaki tua? Untuk apa?”
”Jadi, kau punya lelaki tua?”
”Siapa maksudmu?”
”Hah,” jawabnya tiga huruf.
Aku seperti seekor tupai yang dicemooh oleh senapan angin. Aku tidak mungkin menggedor pintu kamarnya malam-malam. Aku telah berjanji tidak akan menemuinya kalau belum menemukan kota Senyum itu.
”Hentikan guyonan yang mengacaukan itu!” jawabku.
”Bukannya kamu yang mengacaukan segalanya!”
”Ya? Oh, baiklah lebih baik aku tidur supaya tidak lagi mengacaukanmu!” jawabku kesal.
”Ya sudah. Mimpikan lelaki tua itu ya, Yi!”
Aku semakin tidak bisa tidur. Ia menyebutku Yi lagi. Aku benci sebutan itu. Lagi, aku memikirkan siapa lelaki tua yang dimaksud suamiku. Apakah yang dimaksud Pak Gusti? Hah, kepada siapa harus kuceritakan bahwa yang kucari dari Pak Gusti hanyalah kota Senyum. Bukan cinta atau kasih sayangnya. Untuk hal kasih dan sayang, aku tidak butuh lagi. Aku telah mendapatkannya dari dunia maya. Bahkan, aku tidak perlu lagi belaian suamiku. Aku telah kenyang dibelai oleh imaji-imaji kota Senyum.
Ah, akhirnya aku merasa perlu menjelaskan kepada suamiku. Setelah lewat tengah malam. Aku sms suamiku lagi, tetapi dengan kata-kata berkulit mauku biar dia tahu bahwa aku sangat ingin bersamanya ke kota Senyum.
”Beberapa dada mendekapku dengan nafas. Betapa kulitku ditusuk ribuan penghuni dunia. Ada cahaya, jejak yang ditinggalkan di mataku. Tidak ada bisikan kecuali tertutupnya pintu-pintu menuju ranjang pengantin.”
Esoknya, Tut De menjawab, ”Kau bahagia bukan?”
Jawaban macam apa itu. Dipikiranku ia tidak lebih dari lelaki bodoh yang tidak mengerti perasaan perempuan. Aku pikir gajinya lebih dari cukup untuk mengantarku ke kota Senyum. Hah, itu hanya impian yang siasia. Aku betul-betul diperlakukan seperti bayi.
Mbok Luh Komang, perempuan pertama dan orang kesekian yang kutanyai tentang kota Senyum. Mungkin dia lebih mengerti perasaan perempuan yang tidak pernah menyepelekan setiap hal. Namun, aku tidak bisa terlalu berharap. Meski ia perempuan, ia hanya seorang tukang cuci pakaian. Aku telah lama mengenalnya. Ia selalu datang ke rumahku untuk mencuci pakaian suamiku. Karena ia pembantu suamiku, aku tidak mau ia tahu aku. Namun, ia menyerahkan satu juta uang yang didapat dari saku pakaian suamiku. Sejak itu, aku mulai membuka diri untuknya. Barangkali ia bisa menceritakan kota Senyum.
”Mbok Luh, selama ini aku sesekali lihat kamu berbincang-bincang dengan suamiku.”
”Tidak, Bu. Saya tidak ada apa-apa dengan suami ibu. Saya hanya tukang cuci.” Katanya menghentikan ucapanku.
”Hei, aku belum selesai bicara.”
”Bu, saya punya suami yang sering mengantar saya kemari. Jangan khawatir. Lagi saya sudah monopos.”
“Ya...Tapi saya hanya ingin menanyakan satu hal. Yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaanmu di tempat ini.”
”Apa itu?”
”Mbok Luh tahu kota Senyum?”
”Ya.”
”Jadi tahu?”
”Ya. Bu Sari memang harus sering tersenyum. Terutama kepada suami.”
”Hah, itu bukan maksudku. Yang kumaksud sebuah kota yang dihuni oleh manusia.”
”Ya.. itu maksud saya, Bu. Ibu seperti seorang bayi di sebuah kota Senyum seperti yang disebut-sebut Bapak.”
“Apa yang kamu ketahui tentang bayi dari suamiku?” Aku bertanya sangat marah. Seolah Mbok Luh Komang tahu segalanya. Aku benar-benar merasa suamiku telah membicarakanku kepada semua orang. Itu lagi-lagi penghinaan.
”Bapak sering menyebut-nyebut nama Ibu sendirian di ruang bacanya, ‘bayi manisku’ begitu katanya,” jawab Mbok Luh Komang.
“Ah, kau bohong! Dia itu sering menghinaku! Bayi! Bayi! Apa itu?”
“Bayi itu simbol. Ia sebuah realitas yang sangat terangdan jelas membawa sifat kemakhlukan dan keinsanian. Kepolosan. Ketelanjangan. Dan, keapaadaan.”
Aku merasa menjadi sangat mulia ketika Mbok Luh Komang mengatakan hal itu. Aku tidak percaya kata-katanya. Lagi pula suamiku tidak menunjukkan ia menyukaiku. Buktinya, ia tidak pernah mengantarku menuju ke kota Senyum. Dan biarlah kami berpisah karena ia pembohong.
Mbok Luh Komang meski meyakinkanku bahwa suamiku memujaku dengan menyebutku bayi, sungguh aku tidak akan terpengaruh dengan keputusanku pisah ranjang sampai ia mewujudkan impianku.
”Betul, Bu. Bapak menyebut Ibu dengan mesra, ’bayiku’ begitu berulang-ulang.”
”Bayiku! Bayiku! Bayiku!” kataku mencemooh katanya. Di dalam hatiku aku memang terbuai setelah Mbok Luh menjelaskan arti bayi. Menurutnya, bayi itu sebuah realitas, bakal keindahan, kehidupan, dan masa depan manusia. Bayi itu asasi dan paling dasar. Bayi ketakbersalahan. Seorang bayi menyimpan keutamaan manusia. Ada harapan yang bercokol menumbuhkan manusia secara asasi. Manusia tidak mungkin menjadi manusia jika tidak menyimpan harapan. Hanya itu caranya menutupi kebohongan? Dia merayuku? Kapan dia bawa aku ke kota Senyum?
”Bayi itu benih harapan.” katanya, eh maksudku kata temanku yang cerdas, eh kata kekasihku yang selalu menemaniku sepanjang hari di kamar yang gelap, kota senyum yang tidak terkira indahnya.

Sukasada, Juni 2009