Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Agustus 2014

EMPING CONDET_feature



EMPING CONDET

 Jika Anda kebetulan makan emping, barangkali yang Anda makan itu emping condet. Dan jika pada suatu kali Anda menelusuri jalan setapak yang lengang, sejuk, dan teduh di pelosok Condet, telinga Anda pastilah akan mendengar bunyi ketukan bertalu-talu di sepanjang jalan itu, bersahutsahutan dari rumah ke rumah. Suara itu tak lain dari suara penduduk yang sedang ngemping. Kalau Anda melongok sedikit, hampir di depan setiap
rumah terlihat emping yang sedang d.empur, diletakkan di atas anyaman bambu di atas tanah.

 Yang memegang peranan utama dalam membuat emping adalah buah melinjo. Pohon melinjo banyak d.umpai di antara rimbunnya pepohonan di Condet. Konon dahulu, jika buah melinjo sedang masak, seluruh pohon kelihatan merah menyala. Daunnya yang h.au tidak tampak sama sekali. Apabila buah melinjo diturunkan, hasilnya antara 50-80 liter. Tapi sekarang merosot sampai 20 liter saja dalam sekali musim, yang biasa dipanen 2 kali dalam setahun. Lagipula sekarang tidak banyak pohon melinjo yang diizinkan berbuah karena harus digunduli dan sekali dalam 5 hari pucukpucuk daunnya yang muda dipetik kemudian d.ual. Pasti laris karena daun itu merupakan bahan utama untuk sayur asem. Sekeranjang daun melinjo harganya antara Rp 300,- sampai Rp 700,- tergantung cuaca. Makin panas suhu, makin tinggi harga daun melinjo.

Namun, konsumsi sayur asem yang luar biasa ini telah sangat mengurangi produksi buah melinjo, sedangkan ‘pabrik’ emping harus bekerja terus untuk mendatangkan income sampingan bagi penduduk Condet. Apa akal? ‘Impor!’ sekitar 70 s.d. 80% buah melinjo yang diemping di Condet sekarang ini adalah barang ‘impor’ dari Lenteng Agung, Pondok Bambu, Serang, dan daerah lain di sekitar Jakarta.

Kendati demikian, kesibukan memetik bauh melinjo masih merupakan acara tetap musiman di Condet. Pagi-pagi sang bapak dibantu anak lelakinya akan menurunkan semua buah melinjo, lalu meletakkannya di beranda atau di pakarangan rumah. Semua anggota keluarga segera turun tangan memisahkan melinjo yang sudah masak betul dari yang belum begitu masak yang segera dapat d.ual untuk campuran sayur asem. Buah yang masak yang segera dikupas kulitnya. Anak-anak tetangga yang berkerumun menonton biasanya turut bantu mengupas. Untuk setiap liter melinjo bersih mereka dapat upah Rp 20 dan seorang anak yang cekatan dapat menyelesaikan 5 liter dalam waktu 2 jam. Lumayan. Kulit melinjo yang merah ini tidak pula dibuang begitu saja. Setelah direbus sebentar lalu dikeringkan, dan siaplah kulit ini untuk d.adikan campuran sambal goreng, opor, lodeh atau pun kalio. Bisa juga diiris panjang-panjang dan digoreng bersama ikan teri, dengan cabai, atau tidak.

Jika buah melinjo yang bersih sudah tersedia, pekerjaan membuat emping dapat dimulai. Untuk ini, dibutuhkan sebuah tungku dengan kayu bakar dan sebuah kuali tanah, sedikit pasir, sebuah landasan dari batu (untuk ini banyak digunakan ubin bekas dari sisa bongkaran rumah zaman dulu, yang tebalnya sampai 5 cm dan panjang/lebarnya 60 cm), martil besi dan anyaman bambu untuk tempat menjemur. Memang mulai banyak juga orang yang menggunakan kompor minyak tanah dan kuali baja atau aluminium, tapi barang-barang ini masih dipandang sebelah mata oleh orang Condet.

Nah, bila semua sudah siap, buah melinjo digongseng bersama pasir, di dalam wajan yang diletakkan di atas tungku yang apinya kecil. Ini dilakukan sebentar saja, 3-5 menit, tapi sementara itu buah mesti terus diaduk. Yang sudah mulai hangus kulitnya segera diangkat, ditegakkan di atas sepotong papan kecil, dan ditokok pelan dengan martil. Kulitnya segera pecah, lalu isinya diletakkan di atas landasan dan ditokok lagi dengan martil sampai pipih. Setelah pipih, sudah kelihatan seperti emping.

Karena masih basah, emping ini dipindahkan ke anyaman bambu untuk d.emur. Mengangkat emping basah dari landasan ke anyaman bambu memerlukan teknik tersendiri. Jika buah melinjonya cukup tua dan menggongseng tepat, emping basah itu akan mudah diangkat, seperti mengangkat kue dadar kecil dari wajan. Kalau salah satu atau kedua persyaratan itu tidak terpenuhi, terpaksa digunakan sejenis alat, yaitu sekeping kecil seng yang digunakan seperti pisau khusus untuk menyayat emping basah itu dari landasan batu.

Sementara itu, buah melinjo terus dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam kuali, dan yang sudah masak langsung dikeluarkan, dikupas, dan dipipihkan.

Biasanya satu tim pembuat emping terdiri atas seorang ibu dengan dua anak gadisnya. Mereka bertiga dapat menyelesaikan 10 liter melinjo dalam waktu 7 jam, mulai dari pukul 8 pagi sampai pukul 3 sore, diselang-seling tugas-tugas lain seperti memasak, mencuci, dan sebagainya. Apabila yang mereka kerjakan bukan melinjo hasil kebon sendiri, artinya apabila yang mereka mengambil upahan membuat emping, untuk mengerjakan 10 liter melinjo mereka memperoleh Rp 600.

Emping yang dihasilkan dari 10 liter melinjo itu adalah sekitar 4 kg, kering. Kalau harga jual borongan emping sekitar Rp 1150 per kilogram, dapat Anda perhitungkan sendiri mana yang lebih menguntungkan antara mengizinkan pohon melinjo berbuah atau menjual pucuknya untuk konsumsi sayur asem. Orang Condet melakukan keduanya.

Emping ‘satu melinjo’ jarang dibuat di Condet, kecuali atas pesanan. Yang banyak dibuat adalah emping ‘multimelinjo’ yang ukurannya besarbesar. Ada emping 8 melinjo, 12 melinjo (yang paling banyak dibuat), bahkan ada yang 30 melinjo, yaitu emping besar yang garis tengahnya mencapai 25 cm dan banyak d.umpai di restoran-restoran besar. Untuk emping ukuran besar ini, ada cara pembuatan tertentu. Mula-mula dibuat dulu bentuk bulan sabit, kemudian setengah lingkaran, baru sesudahnya lingkaran penuh yang rapi. Melihat proses ini, tidak dapat tidak timbul ide, dapatkan misalnya emping dirancang bentuknya menurut pesanan? Untuk merayakan ulang tahun anak Anda barangkali Anda ingin emping berbentuk Tongki Bebek? Atau bintang? Belum pernah dicoba, memang. Anda mau pesan?

(Ditulis oleh: Ismail Marahimin dalam buku Menulis Secara Populer)

Jumat, 08 Agustus 2014

Bali di Titik Nol_Feature



Bali di Titik Nol

Perjalanan ini mendaki, mengejar kabut-kabut tipis di lereng utara Gunung Abang, dikepung pemandangan surgawi, untuk menemui kenyataan pahit yang terbiarkan di sana selama beberapa generasi. Gadis kecil itu bernama Novi.

“Umur saya, sebelas tahun,“ katanya. Wajah berlepotan debu itu tersipu. Rambutnya kemerahan sedikit. Kulitnya bersisik. Ia hanya setahun duduk di sekolah dasar. Ayahnya, Nyoman Sitor, tidak tega membiarkan anaknya naik turun bukit setiap hari untuk sekolah. Satu-satunya sekolah dasar terletak di pusat Desa Trunyan, sekitar 3,5 kilometer dari dusun.

Novi tidak sendiri. I Made Jepri lebih merelakan anak perempuan semata wayangnya ikut sang ibu berjualan ke Denpasar daripada bersekolah. Ibu dan anak itu pulang ke dusun lima minggu sekali.

Di Dusun Banjar Madya, banyak anak tak selesai SD. Kebanyakan penduduk di dusun berpenduduk 670 orang itu tidak bisa baca tulis. Bahkan, kelian (kepala dusun) Banjar Madya, Nyoman Putra (23 tahun), hanya sampai kelas 3 SD meski bukan berarti pendidikannya berhenti pada tingkat itu.

Dusun Banjar Madya, Desa Trunyan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, terletak di ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut. Dibutuhkan sekitar tiga jam perjalanan dengan mobil pribadi dari Kuta, ditambah 2,5 jam jalan kaki menanjak ke arah puncak Gunung Abang yang berketinggian sekitar 2.153 meter.

Jarak dari ujung jalan beraspal sampai ke bale banjar di dusun itu sekitar dua kilometer, tetapi menanjak dengan kemiringan antara 20-60 derajat. Di bawah ada bagian yang gembur tertutup tebu yang tebalnya semata kaki, berkubang di sana-sini.

Perjalanan ini dimanjakan gambaran sempurna tentang tanah air nan elok permai. Sulit memilih kata untuk mendeskripsikannya ketika membaui wangi tanaman hutan dan tanah lembab yang terinjak ketika mendengar suara serangga musim panas yang gempita dan ketika kabut mendekat, memeluk tubuh, mengusir lelah, menyerap keringat dan yang dibawa dari udara bersuhu 39 derajat Celcius dengan kelembaban tinggi di bawah.

Kabut berarak lagi ke ketinggian tertentu, seperti menunggu. Perjalanan mendaki seperti menunggu. Perjalanan mendaki seperti perjalanan mengejar kabut .....

Di balik keindahan

Seluruh suasana itu dengan mudah meluputkan pemandangan sebenarnya tentang separuh Bali yang lain: perbukitan gundul, pepohonan meranggas, ladang kosong, dan pekarangan yang kerontang. Bau tinja manusia kerap mengambar ke diterbangkan angin. Sampai hari ini, warga dusun tak kenal kamar mandi dan jamban.

“Kami ingin punya kamar mandi dan jamban, tetapi di sini air susah sekali,” ujar Wayan Putra. “Pada musim kemarau seperti ini, kami mandi dua-tiga hari sekali.”

Kenyataan ini meruntuhkan gambaran tentang kemakmuran Bali etalasenya dipajang di Nusa Dua, di Kuta, Sanur, dan pada 16 titik pengembangan wisata lainnya di pulau seluas 5.632,86 kilometer persegi itu; tentang Bali yang berada di papan atas dalam peta pariwisata dunia, dan tentang eksotismenya yang dipuja-puja.

Andai tahu situasi nyata di perutnya, entah apakah bunyi, “Jangan mati sebelum menginjak Bali,” masih digunakan; atau memang kenyataan itu tak berhubungan dengan gambaran yang diciptakan untuk mimpi indah pada pendatang; atau lebih parah lagi, jangan-jangan situasi itu justru menjadi bagian dari “eksotisme” dan surga bagi peneliti.

Kabut turun ketika kami tiba di depan Bale Banjar. Uap putihnya menerobos pepohonan. “Kabut ini pertanda baik bagi kami,” kata Nyoman Darsana (25). Dilupakan.

Pada setiap tamu yang datang, Wayan Putra selalu mengharapkan air untuk warganya. Janji pemerintah, kata dia, hanya tinggal sebagai janji. Di dusun itu, sumber air bersih bergantung pada air hujan. Sangat terbatas sehingga menipiskan sumber kehidupan dan menyempitkan pilihan hidup.

Selama musim penghujan, air ditampung di bak-bak tembok tertutup. Ada 16 bak di situ, setiap bak digunakan 10 keluarga. Tetapi, seringkali cadangan air tak cukup untuk melewati musim kemarau sehingga warga harus mencari air ke Danau Batur dengan berjalan kaki selama tiga jam sekali jalan.

“Kami ini warga Bali yang dilupakan,” kata Wayan putra dengan nada getir. ”Di Kuta dan area-area wisata lainnya di Bali, air bersih berlimpah. Di sini untuk mendapat air satu ember saja susah.”

Sayangnya, bantuan yang datang bukan yang sangat dibutuhkan. Desa itu baru sekali mendapat bantuan, Rp 8 juta, dari pemerintah kabupaten. Mungkin karena tak punya pengalaman dengan bantuan, uang itu malah digunakan untuk memperbaiki balai banjar dan jalan setapak menuju balai dan puri.

Status sebagai Komunitas Adat Terpencil (KAT) membuat desa itu mendapat bantuan dari Departemen Sosial, tahun 2005, berupa satu panel sel surya matahari yang digunakan untuk menerangi pura dan balai. Bantuan lain berupa material, termasuk seng untuk membangun rumah warga yang semula dari bambu, menjadi rumah tembok.

“Pada saat itulah, terjadi penebangan kayu besar-besaran di sini,” kata Wayan Cipta.
Departemen Sosial juga memberi bantuan pengh.auan bibit kayu jati, 35 batang per KK, tetapi rata-rata yang hidup hanya dua pohon. “Bantuan itu salah musim karena diberikan saat musim kemarau,“ sambung Wayan Cipta.

Pos kesehatan baru ada lima bulan terakhir , biasanya dilayani seorang mantri kesehatan, seminggu empat kali di Bale Banjar. Sebelumnya hanya pelayanan puskesmas keliling sebulan sekali. Tetapi, gunanya tak banyak karena warga tak bisa membayar ongkosnya, Rp 5.000 di pos kesehatan dan Rp 3.500 di puskesmas keliling.

Meski penghidupan sangat sulit, warga Dusun Banjar Madya tabu mengemis . “Malu,” sergah Wayan Putra.

Mereka memilih bekerja keras dengan hasil yang sangat tidak memadai. Sebagian besar pekerjaan warga adalah bertani tadah hujan. Jika curah hujan masih memadai, mereka dapat menanam bawang merah. Tetapi, biaya produksinya tak kecil.

Panen bagus menghasilkan sekitar 60 kilogram bawang per are tiap enam bulan dengan penghasilan bersih tak lebih dari Rp 200.000. Mereka biasa berjalan kaki hingga 10 kilometer dengan beban 50 kilogram di punggung.

Pendapatan itu dipakai untuk membeli beras sebagai pencampur makanan pokok dan kebutuhan pokok lain. Makanan utama warga adalah singkong dan jagung. Jika uang habis, warga mencari kayu bakar.

“Satu pikul harganya Rp. 10.000, kami dapat setelah jalan kaki memikul selama tiga jam,” kata Wayan Aryana (25 tahun).

Dengan situasi seperti itu, cita-cita menguap dari kamus anak-anak. Tetapi, Novi tahu, 20 teman seumurnya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Kuta.....

(Sumber: Kompas, 9 Desember 2007)