Minggu, 16 Februari 2014

Puisi Masih Mabuk


Masih Mabuk
Oleh Luh Arik Sariadi

Di luar damar, cahaya samar bebukitan bercakap
arak dan asap di luar samar, sehelai daun diinjak
bergetar reranting seperti berteriak lebur semak
dan serangga mabuk di luar semak,
kau dan aku mengabur
seolah bebukitan diam dalam gemuruh

bebatuan kecil jatuh bisu
pada takdir kita dalam pertapaan,
 perang antara asap dan dingin
Kau nasihati aku duduk tanpa siksa
sedang aku mendaki bukit
daun-daun rapuh dalam jebakmu

 kau dan aku mengantuk
meneguk arak bagai embun
menghirup asap kasmaran
suara samar,
anak-anak teriak
sungai sudah sujud
semak dan serangga masih mabuk

Singaraja 2 Mei 2013 

Kembali ke Sungaimu


Kembali ke Sungaimu
Oleh Luh Arik Sariadi

Ada yang tak beranjak, sungai tanah
Suara sungai bergoyang di hatimu
degup tanah terinjak dalam senyummu

sungai murung, tanah terkatup
huruf-huruf tak mengalir
kata-kata bisu sayup

Puisi bagai ranjang merayu punggungku
rebah dalam jalangmu
Puisi jadi selimut menyalak pinggulku
pasrah dalam lancangmu

Ini kau sebut sembur air
meruntuhkan debu kembali ke sungaimu

2 Mei 2013, Singaraja

Minggu, 29 Januari 2012

Dewa Siwa yang Agung

Dewa Siwa telah menunjukkan keagungannya, membantuku mengambil keputusan bagi keluargaku yang sakit-sakitan. Kuserahkan hidupku kepada-Mu Dewa Siwaku....
Terima kasih

Kamis, 27 Januari 2011

Lakon Pendek, Nung...Neng...

Nung…Neng…
Lakon Pendek untuk Monolog
karya Luh Arik Cahaya

LANGIT TERUS MENERUS GELAP DAN GELAP ITU JUGA YANG MEMUDARKAN CAHAYA, MAHASISWA (20 TAHUN) YANG KEBETULAN MENGADAKAN PENELITIAN TENTANG KISAH JAYAPRANA- LAYON SARI DI DESANYA SENDIRI . HUJAN TURUN RINTIK-RINTIK MEMBASAHI SPANDUK-SPANDUK YANG DIPASANG SAAT HUJAN KEMARIN. SPANDUK-SPANDUK YANG BERTULISKAN SLOGAN-SLOGAN CALON KEPALA DESA, BEBERAPA TELAH JATUH KARENA SEMALAM HUJAN LEBAT DISERTAI ANGIN KENCANG MENGGOYANGKANNYA SAMPAI ALING. DENGAN SEMANGAT NASIONALISME YANG TINGGI TERHADAP BANGSA INI, CAHAYA MENCOBA MEMASANG KEMBALI SPANDUK ITU. BAGINYA, APAPUN PARTAI CALON KEPALA DESANYA KELAK, TETAPLAH KEPALA DESA ITU SEORANG PEMIMPIN. KALAU SUDAH TERPILIH, PASTILAH KEPALA DESA ITU MEMANG BENAR ORANG YANG DISEGANI DAN DIPERCAYA MAMPU MEMBAWA DESA INI MENJADI LEBIH BAIK.

LAMP FADE IN
CAHAYA MENGEJA LIRIK LAGU YANG SEDANG DITELITINYA.
CAHAYA : Nyoman Jayaprana,
prasida suba anake buka Nyoman ngalih ane madan jatu karma
apan ragan Nyomane suba madan pradnyan
sing sandang liu anake buka gelah miteketin
Gelisin Nyoman....
Hujan yang lebat ini pertanda apa Hyang Widhi? Berminggu-minggu hamba di sini meninggalkan pekerjaan untuk meneliti. Mungkinkah Hyang Kuasa tidak merestui penelitian hamba? MEMASANG SPANDUK PADA KAYU. Saya sangat paham bahwa memang sudah menjadi kewajiban saya membuat skripsi ini. Oleh karena itu, saya harus tulus melakukannya. Hamba tahu Tuhan. Akan tetapi, tidak mungkin hamba terlalu lama di sini. Desa ini tidak punya apa-apa untuk orang seperti saya yang hendak memperbaiki hidup demi masa depan. Ayah hamba walau bersusah payah bekerja menjadi pencari aren, tetap saja uang yang dikumpulkannya tidak cukup untuk biaya sekolah hamba di kota.
Tuhanku, hamba kurang paham, mengapa desaku ini semakin mundur saja. Seperti sudah hilang semua kehidupan di desa ini.
Spanduk-spanduk sudah dipasang untuk meramaikan pemilihan kepala desa, tetapi tetap saja desa ini sepi. Di kota, spanduk-spanduk dipasang itu berarti akan ada pesta besar. Lalu, banyak manajer menawarkan penyanyi atau penari agar bisa memeriahkan pesta itu. Kalau pesta besar, tentu semua orang sudah tahu, bahwa semua seniman yang kondang akan diundang. Semua dapat pekerjaan. Ada yang membuat hiasan panggung, ada yang latihan menari, ada yang mempersiapkan makanan, dan semua itu dilakukan di sekotar spanduk yang dipasang. Para pedagang kecil akan berjualan walau dipungut biaya keamanan. Kalau sekarang saya menghadapi desa seperti ini? Tentu saya tidak betah berlama-lama di desa, AGAK MALU-MALU walaupun sesungguhnya saya dilahirkan dan dibesarkan di desa ini. Di kota, walau saya hanya bekerja sebagai penjaga cafe, saya mampu membayar kuliah sendiri, bahkan lebih dari cukup hingga saya bisa mengontrak rumah kecil di pinggir kota. Sekarang, saya pulang untuk meneliti Jayaprana-Layon Sari yang sering diceritakan dalam Sendratari. Sebetulnya, saya tidak begitu tertarik menggarap skripsi ini, tetapi saya merasa harus menelitinya karena saya harus memiliki rasa cinta terhadap daerah. Itu kata dosen saya. Tentu orang tua saya mengetahui bahwa saya selalu menghalalkan segala cara yang tidak merudikan orang untuk meraih kesuksesas saya. Maka itu, orang tua saya sependapat dengan saya.
AGAK KECEWA. Saya sudah tidak pacaran selama sepuluh tahun untuk karier saya, jadi... tidak mungkin saya membiarkan desa yang sepi ini menggagalkan karier saya. Saya ingin punya ijazah sarjana, lalu saya akan mendapatkan pekerjaan yang disukai oleh hati nurani saya. AGAK ANGKUH. Tapi, hati nurani saya paling pantang dihina.
BLACK OUT

DI HADAPAN CAHAYA, LAMPU HEMAT LISTRIK DENGAN WARNA PUTIH MENJADIKANNYA CAHAYA. BULAN BERULANG-ULANG DILAMAR OLEH KAWANAN KELELAWAR. RUMAH YANG MELINDUNGI CAHAYA DIKELILINGI KELELAWAR YANG GELISAH MENUNGGU JAWABAN BULAN. CAHAYA BERNYANYI UNTUK MENCARI ARAH AGAR TERANG SEMUA GELAP. KALI INI LAGU DICIPTAKANNYA UNTUK ORANG-ORANG YANG MENGHINANYA.
Nung....Neng....Nung...Neng....
Dug....dug...deg..dug...deg....gembel
Basa lalah, basa genep
maakah basang seneb
Yen moros, base pamor
Men boros, saje ngenyor
CAHAYA : Hidup itu sangat sederhana. Aku pikir desa ini telah mati. Ternyata baru menjelang ajal. Aku saja yang terlambat menyadari. Desa ini lebih ramai dari perkiraanku. Pepohonan yang menasihati burung-burung, kupikir mampu juga menyentuh hati penduduk supaya damai berada di tempat ini. Huh, ternyata....Empat tahun kutinggalkan, desa ini seperti kota saja. Ada juga preman. Terikan kelelawar pada malam hari tidak seganas teriakanku, tetapi tidak juga ada yang mendengarku. Teryata aku salah menilai. Hanya karena aku memungut selembar sepanduk dan memasangnya kembali, aku dinilai memihak entah siapa. Entah berhadapan dengan siapa aku ini? Aktivis seperti aku, selalu lolos dalam pengejaran intel, kini desaku sendiri yang berkhianat, menyandraku karena dianggap mampu mengubah iklim politik di desa ini. Ah, kalian salah! Aku tidak bekerja untuk hal-hal sepele seperti ini! Aku bekerja untuk hal-hal besar! Untuk tenaga kerja! Untuk hubungan kebudayaan! Untuk kesenian! Utamanya untuk kemanusiaan! Kalian dengar?

CAHAYA MENCOBA MENEROBOS DINDING KAMAR YANG GELAP. CAHAYA BERTERIAK SEMAKIN KERAS SUPAYA KELELAWAR JUGA BERTERIAK DAN ORANG-ORANG DI DESA ITU MENDENGAR BAHWA DIRINYA BERADA ENTAH DI MANA.

BLACK OUT Selesai

Lakon Pendek, Ni Tunjung Biru

Ni Tunjung Biru
oleh Luh Arik Sariadi

Sebuah desa, Alaswana. Pepohonan adalah rumah bagi kehidupan. Burung-burung berkicau. Matahari menembus ilalang tidak pasti. Cacing hidup di tanah subur. Asap kayu baker sangat wangi menebarkan sunyi ke seluruh padukuhan. Inilah rumah bagi gadis-gadis yang tidak mungkin melangkah ke sekolah.

Ni Tunjung Biru anak pertama dari Ni Pucung dan I Sundih. Wajahnya cantik dan menawan banyak laki-laki. Namun, ada kebiasaan buruk yang dipertimbangkan oleh banyak laki-laki sehingga berpikir ulang untuk menerimanya sebagai pasangan seumur hidup. Ni Tunjung Biru selalu membawa bantal guling ke mana-mana. Bantal yang telah bertahun-tahun tidak pernah dicuci adalah kenangan yang paling indah baginya karena merupakan satu-satunya peninggalan ibunya sebelum meninggal.

Inilah kenangan, sulit dilupakan. Bantal Guling itu adalah pemberian ibu. Kawanan peri telah mengantarkannya hingga tidak mungkin diberikan kepada orang lain. Sebelum peri itu memberikan bantal itu, mereka menyeberangi sungai pikiran yang aralnya sangat dahsyat. Lalu, peri-peri itu menari di angkasa, alam mimpi yang tidak pernah terpecahkan.

Sound in stage. Ni Tunjung Biru bernyanyi di halaman dengan membawa bantal.
Ni Tunjung Biru : Pang ping pang, keladi gadang keladi kuning, ede ngejuk icing, icing enu bajang cerik. Salak likawana, timun likangina, galak ne luana, kimud ne muanina.

I Sundih : (DATANG DENGAN AMARAH) Sudah! Berhentilah bernyanyi yang bukan-bukan.
Ni Tunjung Biru : Bukan-bukan? Maksudnya?
I Sugih : Kamu sudah dewasa. Cobalah mencari kerja ke kota. Kamu bisa mencoba jadi pembantu, tukang empu, menjual canang, atau belajarnya menjahit baju. Jangan bernyanyi saja!
(MENARIK BANTAL) Apa lagi ini! Ini bantal!
Ni Tunjung Biru : Tidak! Ini ibuku!
I Sundih : (BERUSAHA MENENANGKAN) Yah! Sudahlah. Kembalilah. Ibumu sudah tiada. Kini kau hidup dengan ayah dan kau sudah dewasa. Jangan berpikir yang bukan-bukan lagi.

DATANG TEMAN-TEMANnya yang akan berangkat ke kota untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah. Betapa senang hati mereka mendapat kesempatan untuk bersekolah. Sementara Tunjung Biru tak mau disekolahkan karena ayahnya malu kalau-kalau anaknya jadi bahan tertawaan karena selalu membawa bantal guling kemanapun perginya.

Ni Selut : Delem sangut merdah tualen, medem bangun ngamah dogen.
Tunjung, kamu tidak jadi berangkat ke kota? Mengapa masih di halaman? Mana baju-bajumu? Ada baiknya kamu belajar lagi ke kota. aku dengar ada SMK yang memberi beasiswa. Kamu tidak tertarik?
Ni Tunjung Biru : Kamu pikir aku tidak tertarik? Tentu aku tertarik, tetapi harus bagaimana? ayah meragukan niatku. Dia takut kalau-kalau aku diejek teman-teman karena selalu membawa bantal ini.
Ni Godam : Aduh, Tunjung. Ayahmu memang benar masa bantal ini kau bawa terus? Malu-maluin aja!
Ni Tunjung Biru : Malu? Ini sudah seperti ibuku. tidak mungkin kubuang di rumah.
I Sundih : Begitulah kebiasaannya! Kalau bukan karena aku setia terhadap istriku, tentu kutinggal menikah lagi anak ini! Tak kusangka anak ini tidak berguna. Membawa bantal saja! Perempuan apa? Kelihatan malasnya! Mana mungkin paman mau menyekolahkan dia? Semoga ada lelaki yang tertarik kepadanya. sudah 12 laki-laki yang meliriknya, tetapi belum satupun yang mau menjadikannya istri. Usia segini, mestinya nikah saja supaya cepat menjadi orang. Menjadi istri. Menjadi ibu. Baru namanya perempuan.
Ni Godam : Tunggu-tunggu, Paman. Paman meragukan keperempuanan anak Paman? Sudah jelas-jelas dia perempuan tercantik di desa ini. Tersiar kecantikannya ke desa-desa tetangga. suaranya merdu menjadi dirindukan oleh siapapun yang mendengarnya. Masih juga tidak pecaya bahwa dia perempuan? Waduh, kalau saya jadi dia, saya akan madu para lelaki.
Ni Selut : Alah kamu! sukanya mengoleksi laki-laki saja. Sekarang sudah ada lima laki-laki yang kau permainkan. Kalau sampai ke kota mau berapa lagi?
Ni Godam : Lagi sepuluhlah.
I Sundih : Ah, sudahlah. Cepatlah kalian berangkat. Bis Kota akan segera datang jam 3 sore. Jangan sampai gara-gara perempian ini (MENUNJUK NI Tunjung Biru) kalian gagal di kota. sudah jangan pikirkan perempuan ini! Biar kucarikan saja pasangannya.
I Sugag : Swastiastu, We. (LANGSUNG MENATAP NI TUNJUNG) Wow, perempuan yang cantik! Ini baru betina Bali! Peliatne kadi kidang. Rarike medon intaran. Seledetne kadi tatit. Latine barak ngatirah. Wow, gigine kadi danta. Aduh ratu! Praraine nyampuah mulan purnama.
I Sundih : Ya... Benar. Ini anak Paman.
I Sugag : Saya masih belum percaya, We. aduh, jerijine halus musuh bakung. Jriji rurus mengancan. Betekane mamudak. Aduh. Pasti bukan anak We ini.
I Sundih : Langsung saja. Kalau kamu suka, cobalah dekati dia. Dia susah didekati. Kalau berhasil, langsung kau bawa ke desamu. Jadikan istimu. Terserah sana saja.
I Sugag : Ow... jadi langsung wlcome to my parades gitu? Okey....okey...

I SUNDIH pergi. Teman-temannya pun bergegas.
I Sugag : Kau dengar Tunjung? Ayahmu telah menyerahkan kamu sepenuhnya. aku sudah tahu banyak tentnag kamu. Sangat cantik, tetapi agak galak katanya. Tidak masalah. Yang penting happy. Setiap hari kamu masih boleh membawa bantal itu, tetapi kalau aku mau bobok ma kamu, kamu cukup peluk aku.... yayaya....
Ni Tunjung Biru : Jaga ucapanmu!
Don sela gadang-gadang, kikihang nyuh anggo urab, Dong de girang-girang, kayang bangke ing ngidaang ngadab.

I Sugag : Menantang kau!
Batis balang pegat besik, kena pandan ibi poan, Anak bajang inget mekaik, bilang dandan nagih diman.
Ah. jangan bertele-tele!

I Sugag tidak merasa merayu lagi. Ia ingin segera membawa Ni tunjung pergi ke rumahnya. Tiada pilihan bagi Ni tunjung, selain pergi dari rumah. Namun, teman-temannya sudah berangkat. Dia tergesa-gesa pergi. Tidak lupa pamitan kepada ayahnya dengan berteriak.

Ni Tunjung Biru : Bape! Saya akan sekolah di SMK. Saya akan pilih jurusan bangunan. Saya mau jadi arsitek. Bawalah bantal saya sampai saya kembali. Saya akan cari suami sendiri. Bape! Jangan khawatir! Bukankah saya sangat cerdas seperti yang bape katakan! Masalah uang, saya yakin bisa mengatasinya dengan benyanyi! Sekarang peganglah lelaki jorok itu supaya tidak bisa mengejar saya!

I Sundih sangat sayang anaknya. Karena benar bantal itu sudah tidak dibawa oleh anaknya, maka percayalah dia kepada anaknya. I Sugag dipegang hingga tidak bisa mengejarnya.
I Sundih : A nice dream is a nice beam.
I Sugag : Wow, We good English. Nice to meet you…

Selesai.

Monolog

MURDA
Naskah monolog karya Luh Arik Sariadi

SEORANG LAKI-LAKI, MURDA, BERUSIA (20 TAHUN) DENGAN SEBUAH TOPI DI TANGANNYA TERLIHAT GELISAH. SINAR MATAHARI YANG DIAYUN-AYUN OLEH DEDAUNAN, SESEKALI MENYENTUH BOLA MATANYA YANG MENATAP JAUH KE DEPAN. WALAU TAMPAK RAPI, DENGAN DASI, STELAN KEMEJA YANG SERASI DENGAN CELANA, LELAKI ITU MEMPERLIHATKAN KAKI YANG GEMETAR. SAAT BERBICARA, TERDENGAR SUARANYA TERUNTAI DENGAN RAGU-RAGU. DI DEPAN MATANYA, SANGAT JELAS JALAN LEBAR MEMISAHKANNYA DENGAN PANDANGANNYA. HANYA POHON DI ATAS TUBUHNYA YANG MAMPU MENGURANGI KERINGAT YANG MENGUCUR DARI PELIPISNYA, SEBAB DI DEPAN SANA, MENJULANG GEDUNG-GEDUNG TINGGI.

Murda terpaksa tersenyum.
MURDA : Kelak akan kutuliskan namaku di depan gedung ini. Mamina Mall akan kuganti menjadi Murda Mall.Di sebelah gedung besar ini, aku akan membuat pusat hiburan yang berisi kolam ikan lumba-lumba. Anak-anak akan bermain di sana. Para orang tua bisa menunggu di kursi-kursi yang terbuat dari kayu yang telah dihangatkan dengan asap pembakaran kayu cendana. Ah, aku jamin tidak akan ada remaja atau pasangan kekasih yang belum menikah ada di tempat ini. Aku akan mempersyaratkan foto kopi KTP agar pegawaiku yakin benar bahwa yang bekunjung ke kolam ikan adalah pasangan suami istri yang mengantar anaknya. Yah, tidak ada maksudku membatasi pengunjung karena membeda-bedakan status. Melainkan aku hanyaingin memastikan bahwa anak-anak sangat bahagia berada di sekitar kolam renang. Aku akan jual tiket dengan harga terjangkau bagi orang-orang yang kurang mampu, asalkan mereka membawa surat keterangan tidak mampu dari desa atau lurah. (DUDUK DAN MELEMPARKAN BATU KESEBERANG JALAN) Jadi, tidak ada masalah bagiku untuk menyantuni orang-orang yang kurang mampu. Aku bisa mencarikan dana dari kunjungan orang-orang kaya. Aku pastikan pula bahwa usahaku tidak hangat-hangat tai ayam! Maka itu, wahai orang-orang kaya yang saya muliakan, Anda jangan meragukan kesungguhan saya dalam melayani Anda! Anda tentu mendapat pelayanan spesial karena Anda orang kaya. Agar pegawaiku mengenali Anda sebagai orang kaya, masuklah melalui jalan sana (MENUNJUKKAN SEBUAH JALAN LORONG)! Lihatlah, bola lampu itu tidak akan pernah mati sebagai pertanda Anda sangat disambut di taman kami. Supaya Anda merasa nyaman, Anda bisa memesan kartu gesek yang bisa mengenalkan Anda dengan pengenal costemer. Bola mata anda akan tergambar di kartu itu. Sidik jari Anda juga akan tercatat dengan alat khusus yang didatangkan dari Amerika. Mmmm....Anda tentu tahu, produk Amerika sangat terkenal. Force! Force! Yah, kira-kira begitu. INGAT BAHWA DIRINYA HANYA MENGKHAYAL, MURDA KEMBALI BERSEDIH. Sayangnya, aku hanya bukan siapa-siapa yang saat ini ditolak menjadi sopir pribadi pemilik Mall. Kupikir aku bisa diterima sebagai sopir sebab aku sudah punya ijazah lengkap sampai ijazah SMK. Ternyata aku kalah bersaing dengan seorang anak buruh dari pelosok desa, dengan penampilan kumuh, seperti tidak berpendidikan. MELEMPAR SAMPAH PLASTIK KE ARAH MALL. Katanya, dia lebih cocok sebagai sopir. Padahal, aku merasa aku lebih cocok. Lihat saja Mall itu begitu megah, tentu membutuhkan sopir yang pandai berpenampilan seperti aku. Yang membuatku kecewa, seorang satpam mengolok-olokku! Katanya aku kurang jujur! Dasar! Sok tahu! Padahal di dalam aku hanya menyalakan sebatang rokok saat menunggu giliran dipanggil. Saat dipanggil, aku segera mematikan rokok dan segera menyapa direktur itu dengan bahasa Inggris. Good Morning... I am Murda. Please, begitu kataku. Lalu aku duduk. Belum bicara apa-apa, lelaki itu sudah meminta aku keluar. MENGIKUTI GAYA BICARA DIREKTUR YANG LEMBUT Maaf, saya tidak bisa menerima saudara karena saya orang Indonesia yang kebetulan lahir dari rahim orang Belanda, tetapi saya mencintai bangsa saya dan saya telah mengamati saudara, bahwa Saudara lebih cocok jadi manajer daripada sopir. Penampilan Saudara menarik dan bahasa Inggris Saudara sangat bagus.

KETIKA MURDA MASIH MENGELUH, TIBA-TIBA TERDENGAR SUARA RIBUT DARI KEJAUHAN. KELOMPOK MAHASISWA AKAN MELINTASI JALAN INI, SEBAB TERDENGAR SUARA MEREKA YANG BERULANG-ULANG MENYEBUT. Hidup KPK! Hidup KPK! Sudah saatnya kita berantas KPK! GEDUNG KPK HANYA SEKITAR SEPULUH LANGKAH DARI MALL. MURDA LARI MENJAUHI SUARA ITU KARENA TIDAK MAU IKUT TERLIBAT DEMONSTRASI.
MURDA : Huh! Mahasiswa bodoh! Mau saja bicara untuk orang lain! Apa mereka tidak punya perut seperti aku? LARI SAMBIL BERTERIAK KE ARAH MALL SETELAH MELEMPAR BATU KE MALL. Woi, satpam! Bilang pada direkturmu bahwa kawan-kawanku telah datang karena kalian menolakku menjadi sopir!

MAHASISWA YANG BERAPI-API MELAKUKAN DEMONSTRASI, TIBA-TIBA BERHENTI KARENA TERDENGAR SUARA KACA PECAH, DAN MELIHAT MURDA LARI MENJAUHI MALL. SEORANG MAHASISWA TAHU BAHWA MURDA PELAKUNYA. AKHIRNYA MURDA DIKEROYOK OLEH KELOMPOK MAHASISWA.

Selesai

Nyoman Taman

Nyoman Taman
Karya Luh Arik Sariadi

Kemarau membawa nyamuk-nyamuk mencari tempat yang lebih nyaman, sama seperti Nyoman Taman yang senantiasa menginginkan tempat-tempat yang nyaman. Membersihkan bale kangin adalah pekerjaan yang memberikan kenyamanan. Di rumah ini, ia hanya seorang pembantu rumah tangga, tetapi karena tugasnya telah dilakoni sejak berusia delapan tahun hingga ia berusia 17 tahun saat ini. Nyoman Taman tidak pernah mengeluh walau pekerjaannya hanya menyapu, megepel lantai, atau merapikan alat-alat upacara di bale kangin.
Bale kauh adalah tempat peristirahatan bagi para pembantu sebelum malam benar-benar memenangkan pertarungan atas waktu. Namun, senja enggan mengajak Nyoman Taman bertempur. Nyoman Taman telah terlelap sejak jam lima sore tadi. Tidak terasa, upacara tolak bala yang telah dilakukan keluarga besar Ratu Agung selama empat hari telah menguras energinya. Nyoman Taman sangat lelap di bale kangin.
Galang kangin, asap hitam mengepul dari bale kauh. Bau kayu terbakar menyusup ke hidungnya. Asap menebarkan sesak ke dada Nyoman Taman.
Nyoman Taman : Gerah. Musim kemarau ini benar-benar marah. Sasih keenem benar-benar murka. Gunung meletus tiada henti menebar teror. Lalu siapa yang diteror? Bukankah Ratu Agung telah melakukan upacara-upacara besar untuk menolak bala? Warga desa juga mengiringi upacara itu dengan bakti yang tulus. Lantas mengapa sawah-sawah seolah pasrah dengan kemarau? MENGINGATKAN DIRI Eh... Ampura Dewa Ratu...Bukan maksud hamba lega seluk. Hamba hanya heran... mengapa kemarau disertai dengan banjir? Tanah longsor telah menyeret pohon-pohon yang baru ditanam Ratu Agung bersama pemerintah. Ratu Agung sudah membuat larangan-larangan agar warga desa tidak merusak ambengan yang mengikat tanah. Di hulu-hulu sungai, di bukit-bukit, pohon-pohon besar telah diupacarai supaya dengan sekuat-kuatnya menjaga tanah. HERAN. Hem...hem... Banyak sekali yang menganggap Ratu Agung sebagai orang tua yang konyol. Orang-orang berpendidikan yang telah berhasil di perguruan tinggi, mencoba menawarkan teknik-teknik baru agar tanah Ratu Agung diperbukitan tidak longsor. Eh, Ratu Agung malah menertawai pemuda-pemuda yang menawarkan proposal. Apa boleh buat? Bukan perkara uang sebetulnya Ratu Agung sampai menolak pemuda-pemuda itu. Proposal yang diajukan itu memang angkanya miliaran. Berapa miliaran itu? Ah, masa bodo! Kalau biliar, saya tahu. Di ujung desa ini, ada kape (maksudnya cafe) yang buka dari jam 5 sore sampai.... Waduh, sampai jam berapa ya? Ratu Agung tidak bisa melarang-larang karena itu bukan tanahnya. Lagi pula, dari pembicaraan I Ratu dengan tamu-tamu, kape itu sudah pakai pereddam suara sehingga suaranya tidak akan mengganggu warga. TERSADAR Waduh-waduh... omonganku yang penting yang mana ya? INGAT Oh ya.... sebagai seorang pemudi... aku perlu menimbang-nimbang apakah harus terus bertahan menjadi pembantu di rumah yang besar ini TAKJUB atau harus pergi. Barangkali ada salah seorang sarjana yang mau dengan saya.... SELENGEKAN Ya, ampun... saya kan cantik, ayu... Mestinya perempuan secantik saya, sudah banyak laki-laki yang naksir, tetapi mengapa tidak? MENUNJUKKAN KUKU-KUKUNYA Padahal, aku bisanya mengihur orang, seperti dengan menari, menyanyi, atau bercerita.
MATA YANG MASIH KANTUK DAN UDARA YANG PANAS, MENYEBABKANNYA TIDAK BETAH TIDUR DI BALE. IA TURUN DAN MEREBAHKAN TUBUHNYA DI LANTAI.
Nyoman Taman : Kalau panas sudah tidak bisa ditahan begini, itu biasanya akan panas juga desa ini. Kepala desa biasanya ada masalah. Penduduk biasanya melarat, menderita penyakit koreng, sakit kepala, atau yang menyedihkan terkena congek. Entah mengapa penyakit itu datang pada orang-orang misikin. Tabik kulun, syukur saya diberi mengabdi di sini. Asal perut kenyang, ya sudah tenang. Mmhh... tapi kalau terus-menerus di sini, jangan-jangan aku jadi perawan tua. Tidak ada yang melirik lantaran misikin, pembantu. Eit...saya masih lebih beruntung daripada jadi tenaga kerja luar negeri... Yah, pokoknya syukur! TERKEJUT Waduh... kok tambah gerah ya? Asap dari mana yang menghasut hidungku untuk tidak tidur lagi? TERBATUK-BATUK Aduh, Dewa Ratu.... Ratu Agung.... PANIK. Rupanya kebakaran! Ratu Bhatara, bale dauh kebakaran!

BLACK OUT
NYOMAN TAMAN HABIS DIPUKUL. KUKU-KUKU YANG DIISI CAT WARNA DAN SANGAR TERAWAT, KINI SUDAH DICABUTI OLEH PETUGAS KEPOLISIAN. WAJAHNYA YANG CANTIK MENJADI DIPENUHI TAMPARAN-TAMPARAN.
Nyoman Taman : Ternyata sama saja... Tenaga kerja luar negeri atau pun tidak sama saja. Apalagi menghadapi perempuan seperti saya yang selama ini tidak mempersiapkan diri untuk memperthankan diri. Saya tidak punya kemampuan bersilat, tidak punya ilmu kanoragan, saya bahkan tidak punya tabungan untuk membayar pengacara untuk mengadakan pembelaan. Uduh, Ratu Agung.... malang nasibku. Bukan salah saya jika kebakaran itu tidak menghanguskan saya. Ini adalah pertanda baik bagi puri karena pelayan seperti saya sudah selamat. Bukannya dimasukkan penjara seperti sekarang. Mana mungkin saya membakar teman-teman saya? Apa untungnya? Saya jauh lebih cantik dari mereka, jadi tidak mungkin saya iri hati kepada mereka. Saya sudah diperlakukan sebagai anak, mana mungkin melakukan penghianatan terhadap I Ratu. Kalaupun ada bekas bensin di sekitar bale kauh, masak saya yang membakar. Untuk beli rok saja saya tidak bisa, apalagi membeli bensin untuk bakar rumah? Harganya kan mahal, lagi pula langka. Pokoknya bukan saya yang melakukan. BERTERIAK. Pak Polisi! bukan saya pelakunya! Walaupun pada peristiwa itu saya tidak ada di bale dauh, saya ada di bale kangin. Waktu itu saya kelelahan hingga tidak terasa saya tidur pulas. Pak Polisi, coba selidiki orang lain! Di antara yang hidup, pasti masih berkeliaran pelakunya. Ratu Agung! Percayalah pada saya! Pasti ada yang ingin menghancurkan Ratu Agung karena Ratu Agung terlalu kaku! Siapa tahu ada orang yang sengaja membakar agar puri merasakan teror! Pak, walaupun saya hanya pembantu, tetapi saya banyak tahu tennag politik!
NYOMAN TAMAN TERUS BERTERIAK, TETAPI TIDAK ADA YANG PEDULI DENGANNYA.
SELESAI

Jumat, 03 September 2010

Kota Senyum



Oleh Luh Arik Sariadi

Sari, kuperkenalkan namaku kepada setiap senyum bahagia. Hari Selasa, seorang laki-laki datang ke rumahku. Ia dari kota, kota Senyum. Lelaki bermata tajam datang dari kota itu hendak mencari pengantinnya di desa yang kering ini. Desaku sangat kering hingga setiap bunga yang berhasil melewati musim kemarau tumbuh dengan bunga beraneka nama dan beribu kumbang berebut mengisap madunya. Hanya angin yang tiba-tiba menyelamatkan bunga dari kumbang sebab madu telah tumbuh menjadi biji dan jatuh ke tanah. Yang jatuh itu akan bahagia karena tumbuh lagi. Namun yang terhisap sebelum pembuahan, madunya telah hilang. Manisnya telah lenyap. Hanya tubuhlah yang tampak memberinya semangat bertahan melewati musim. Dan, akulah kembang itu, terhisap saat malam menyergap lalat-lalat. Esoknya, jejak-jejak lalat itu tak habis terhapus selama dua, tiga, bahkan belasan cuaca yang telah mengubah kota Senyum menjadi sebuah dongeng.
”Kota Senyum, pasir putih dan ombak yang teguh membanting angin,” kata Tut De. Saat aku memperkenalkan diri, ia banyak bercerita tentang kota itu. Ia pernah berjanji akan mengantarku melihat kotanya. Tidak ada dermaga, tetapi banyak orang berlabuh di kota itu. Tidak ada perahu di pantai kota itu, tetapi banyak kelompok masyarakat mengail uang di sana. Tidak ada sampan yang terikat di pohon-pohon tua, tetapi sepasang kekasih sering bertekad menerjang laut menuju impian. Tidak ada ruang kosong di pasir-pasir, tetapi pantai itu telah jadi rumah bagi jiwa-jiwa yang bebas. Berbagai senyum yang terjerat air laut pasang menyatu di tepi-tepi gelap, dan teriaknya membuat kota itu lebih dikenal sebagai kota senyum, entahlah.
Di kota itu, bocah-bocah kecil tak perlu menadahkan tangannya untuk mendapatkan uang dari orang yang punya rezeki lebih. Bocah-bocah kecil boleh bertugas sebagai sebuah strobery pada segelas juss. Mereka boleh berlarian menghamburkan pasir di kota itu.
Kota Senyum menyediakan berbagai merk minuman dari berbagai negeri. Tut De terus bercerita tentang kota kelahirannya. Ia sangat fanatik terhadap softdrink. Hanya satu perusahaan yang dipercayai menghasilkan minuman yang membasuh bibir tebalnya. Itu semata-mata karena ayahnya bekerja di perusahaan itu. Bukan, karena ia mencintai produk dalam negeri atau ingin mengikuti anjuran iklan di televisi yang dibintangi oleh artis-artis terkenal seperti Agnes Monica atau Luna Maya. Hah, dia pastinya seorang yang fanatik!
”Kalung-kalung yang dijual di kota itu adalah kalung-kalung yang bisa memberi faedah. Bisa membuat orang sukses. Aura setiap pemakainya akan terpancar binal. Kamu boleh membeli kalung yang terbuat dari karang-karang, nanti aku yang bayar,” katanya pelan sembari mengenduskan hidung saat kusuguhkan secangkir kopi. Aku belum menjawab tawarannya, belum bilang bersedia ikut ke kotanya atau tidak, tidak menganggukkan kepala saat ditawari cerita kalung.
”Wangi farfum yang melekat di tubuhmu, serupa serpihan angin tatkala para dewi mencuci rambut di telaga di kotaku,” bisiknya menggoda aku yang sedang berpikir dan menimbang-nimbang tawarannya.
***
Ia mengatakan diriku seperti bayi, bahkan berkali-kali menyebutku bayi. Katanya itu panggilan sayang untukku. ”Yi...Yi...” Memangnya mengapa bayi itu? Kami tidak bersahabat lagi. Tut De lebih memilih menghinaku lewat SMS. Kalau kami bertemu, Tut De selalu berbicara yang indah-indah. Ia sangat cerdas. Ia tahu semua lorong di kota Senyum. Dengan lesung pipinya, aku tidak pernah menamparnya meski ia selalu mengucapkan kata-kata aneh di SMS atau surat. Saat bertemu, aku selalu suka ucapannya. Manis! Namun, aku tidak boleh tergoda lagi.
Sekali lagi aku mengatakan dalam hatiku bahwa aku tidak suka disebut bayi. Aku seorang sarjana. Aku punya banyak relasi. Aku bekerja dengan tanggung jawab. Aku bisa menyelesaikan pekerjaan dengan sangat cepat dan tepat. Jika atasanku menugaskan aku untuk melakukan penelitian di kelas yang aku ajar, aku bisa menyelesaikannya. Berkali-kali aku telah memperoleh juara menulis penelitian tindakan kelas sehingga mampu mengharumkan nama sekolah tempatku bekerja. Aku telah pula mengantarkan siswa-siswaku dalam olimpiade-olimpiade dan mereka selalu mendapat juara, meski tidak selalu mendapat juara I. Waktu ada sertifikasi guru honor, aku mendapat nilai yang paling besar. Fortofolio yang aku kumpulkan dengan sungguh-sungguh tidak diragukan lagi. Semua sertifikat dan piagam penghargaan aku dapatkan dengan kerja keras. Penilai, satupun tidak membubuhkan kata ”palsu” pada fortofolioku. Semuanya asli! Jadi, apa aku bayi?
Makanya aku tidak mengerti mengapa Tut De selalu menatapku sebagai bayi. Kata bayi diucapkan sambil tertawa sangat menyesakkan bagiku. Dan, aku memilih berpisah darinya meski hanya pisah ranjang. Di ranjang yang berbeda pada rumah yang sama, kami selalu SMS-an. Tak pernah ada dialog langsung. Hubungan kami renggang.
Setiap malam, setelah ia datang dari pekerjaannya mengejar target berita, ia tidak pernah lupa kirim SMS tentang kota Senyum, kota kelahirannya yang sempurna. Aku selalu tertarik dengan kota Senyum karena semenjak menikah dengannya, sekalipun aku tidak pernah diajak berkunjung ke kota itu.
Kami berdebat tentang kota Senyum dan selalu berakhir dengan amarah. Aku tidak suka ia menceritakan kota itu lagi karena kota itu seperti imajinasi saja.
Aku punya niat bertanya tentang kota Senyum ke setiap orang di kantorku. Karena aku hanya ingin mengecek keberadaan kota itu, aku betul-betul berlaga bodoh kepada orang-orang.
”Pak Gusti, kota Senyum itu seperti apa?” tanyaku kepada soulmate-ku. Paling tidak dialah orang yang paling dekat denganku untuk sementara. Aku percaya ia akan memberiku jawaban yang sebenarnya dan pasti sangat lengkap. Pak Gusti, sering membantuku dalam menyelesaikan tugas-tugasku di sekolah. Barangkali karena usianya yang sangat besar, ia tahu banyak hal. Pengalamannya banyak. Ia sering dikirim ke kota metropolitan untuk mengikuti pelatihan. Putra sulungnya juga bertugas di kepolisian. Pasti Pak Gusti mengetahui kota Senyum.
”Kota Senyum pasti mengenalku, hingga kamu tanya itu kepadaku, bukan?” tanyanya memberi jawaban atas pertanyaanku.
”Yah, saya tidak tahu, mengapa Pak tanya lagi ke saya?”
”Ha-ha, jadi tidak tahu kota itu?”
”Tidak.”
”Betul-betul tidak tahu?”
”Betul.”
“Pak hanya tahu kota itu pernah menjadi kota terlarang. Pemerintah pusat pernah melarang setiap orang yang hendak pergi ke kota itu. Pemerintah menyiarkan bahwa ada wabah di kota itu.”
”Wabah?” tanyaku heran dan betul-betul heran. Selama aku membicarakan kota itu bersama Tut De, suamiku, dia tidak pernah menceritakan bahwa kota itu pernah kena wabah. Lantas, aku bertanya-tanya mengapa Tut De tidak pernah menceritakannya. Mengapa memangnya wabah itu tidak diceritakan. Itukah sebabnya, Tut De tidak pernah membawaku ke kota Senyum?
”Pak, sekarang saya ada jam mengajar. Nanti saya bertanya lagi. Tidak keberatan kan?”
“Tentu.”
Sejak itulah, pertemuanku semakin intens dengan Pak Gusti. Kami membicarakan kota Senyum setiap ada waktu. Bahkan, Pak Gusti bersedia meluangkan waktu istirahatnya untuk menamaniku membahas kota Senyum. Seusai menjemput istrinya, ia datang ke lapangan tenis. Aku ingin tahu banyak tentang kota Senyum, makanya aku segera membeli seragam olah raga dan alat-alat tenis. Aku menunda pekerjaan sore yang bisanya aku kerjakan setelah istirahat siang. Aku bermain sedikit saja. Aku bukan olahragawan. Alasanku bermain tenis hanya ingin mengetahui kota Senyum. Nanti setelah aku tahu kota senyum, aku tidak akan berolahraga lagi.
Menjadi olahragawan sangat berat. Aku lebih suka duduk di depan laptop dan menjelajahi dunia maya. Aku tak pernah takut terkena penyakit pinggang, alat pencernaan atau penyakit-penyakit yang menyertai kebiasaan duduk lama di depan laptop. Dan, selama ini aku sangat senang dengan hidup karena aku punya dunia baru. Aku tidak perlu takut kehilangan orang-orang yang berada di dekatku. Hah, kalau saja dunia maya bisa menjelaskan keberadaan dan keadaan kota Senyum, tentu aku tidak perlu menjadi olahragawan. Aku tidak perlu mengeluh sakit pinggang atau sakit pergelangan karena memukul bola yang berat. Belakangan, aku menyesal mengapa aku membuang waktu untuk menegangkan ototku. Membuang gaji honorku untuk membeli peralatan olahraga. Dan, membiarkan aku terlibat dalam gosip-gosip yang menyakitkan.
Menurut mereka, aku perebut suami orang! Aku dijauhi oleh orang-orang yang selama ini kuajak membuat proposal untuk memperoleh dana block grant yang diperuntukkan bagi pengembangan sekolah menengah kejuruan. Kepala sekolah juga telah memperingatkanku dengan nada ancaman. Katanya ada yang melaporkan gerak-gerikku. Kepala sekolah tahu semuanya yang tidak mungkin semua benar. Karierku betul-betul diujung tanduk!
Malam-malam, saat aku bermimpi untuk kali pertama pada tidurku suatu hari, suamiku SMS.
”Sudah kau kunjungi kota Senyum itu?”
”Mana mungkin? Kau hanya punya cerita, tetapi tidak pernah mengantarku ke sana.” jawabku kepadanya dengan tanda seru lebih dari sepuluh.
”Masak?”
”Maksudmu?”
”Bukannya kamu punya lelaki tua sekarang?”
”Lelaki tua? Untuk apa?”
”Jadi, kau punya lelaki tua?”
”Siapa maksudmu?”
”Hah,” jawabnya tiga huruf.
Aku seperti seekor tupai yang dicemooh oleh senapan angin. Aku tidak mungkin menggedor pintu kamarnya malam-malam. Aku telah berjanji tidak akan menemuinya kalau belum menemukan kota Senyum itu.
”Hentikan guyonan yang mengacaukan itu!” jawabku.
”Bukannya kamu yang mengacaukan segalanya!”
”Ya? Oh, baiklah lebih baik aku tidur supaya tidak lagi mengacaukanmu!” jawabku kesal.
”Ya sudah. Mimpikan lelaki tua itu ya, Yi!”
Aku semakin tidak bisa tidur. Ia menyebutku Yi lagi. Aku benci sebutan itu. Lagi, aku memikirkan siapa lelaki tua yang dimaksud suamiku. Apakah yang dimaksud Pak Gusti? Hah, kepada siapa harus kuceritakan bahwa yang kucari dari Pak Gusti hanyalah kota Senyum. Bukan cinta atau kasih sayangnya. Untuk hal kasih dan sayang, aku tidak butuh lagi. Aku telah mendapatkannya dari dunia maya. Bahkan, aku tidak perlu lagi belaian suamiku. Aku telah kenyang dibelai oleh imaji-imaji kota Senyum.
Ah, akhirnya aku merasa perlu menjelaskan kepada suamiku. Setelah lewat tengah malam. Aku sms suamiku lagi, tetapi dengan kata-kata berkulit mauku biar dia tahu bahwa aku sangat ingin bersamanya ke kota Senyum.
”Beberapa dada mendekapku dengan nafas. Betapa kulitku ditusuk ribuan penghuni dunia. Ada cahaya, jejak yang ditinggalkan di mataku. Tidak ada bisikan kecuali tertutupnya pintu-pintu menuju ranjang pengantin.”
Esoknya, Tut De menjawab, ”Kau bahagia bukan?”
Jawaban macam apa itu. Dipikiranku ia tidak lebih dari lelaki bodoh yang tidak mengerti perasaan perempuan. Aku pikir gajinya lebih dari cukup untuk mengantarku ke kota Senyum. Hah, itu hanya impian yang siasia. Aku betul-betul diperlakukan seperti bayi.
Mbok Luh Komang, perempuan pertama dan orang kesekian yang kutanyai tentang kota Senyum. Mungkin dia lebih mengerti perasaan perempuan yang tidak pernah menyepelekan setiap hal. Namun, aku tidak bisa terlalu berharap. Meski ia perempuan, ia hanya seorang tukang cuci pakaian. Aku telah lama mengenalnya. Ia selalu datang ke rumahku untuk mencuci pakaian suamiku. Karena ia pembantu suamiku, aku tidak mau ia tahu aku. Namun, ia menyerahkan satu juta uang yang didapat dari saku pakaian suamiku. Sejak itu, aku mulai membuka diri untuknya. Barangkali ia bisa menceritakan kota Senyum.
”Mbok Luh, selama ini aku sesekali lihat kamu berbincang-bincang dengan suamiku.”
”Tidak, Bu. Saya tidak ada apa-apa dengan suami ibu. Saya hanya tukang cuci.” Katanya menghentikan ucapanku.
”Hei, aku belum selesai bicara.”
”Bu, saya punya suami yang sering mengantar saya kemari. Jangan khawatir. Lagi saya sudah monopos.”
“Ya...Tapi saya hanya ingin menanyakan satu hal. Yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaanmu di tempat ini.”
”Apa itu?”
”Mbok Luh tahu kota Senyum?”
”Ya.”
”Jadi tahu?”
”Ya. Bu Sari memang harus sering tersenyum. Terutama kepada suami.”
”Hah, itu bukan maksudku. Yang kumaksud sebuah kota yang dihuni oleh manusia.”
”Ya.. itu maksud saya, Bu. Ibu seperti seorang bayi di sebuah kota Senyum seperti yang disebut-sebut Bapak.”
“Apa yang kamu ketahui tentang bayi dari suamiku?” Aku bertanya sangat marah. Seolah Mbok Luh Komang tahu segalanya. Aku benar-benar merasa suamiku telah membicarakanku kepada semua orang. Itu lagi-lagi penghinaan.
”Bapak sering menyebut-nyebut nama Ibu sendirian di ruang bacanya, ‘bayi manisku’ begitu katanya,” jawab Mbok Luh Komang.
“Ah, kau bohong! Dia itu sering menghinaku! Bayi! Bayi! Apa itu?”
“Bayi itu simbol. Ia sebuah realitas yang sangat terangdan jelas membawa sifat kemakhlukan dan keinsanian. Kepolosan. Ketelanjangan. Dan, keapaadaan.”
Aku merasa menjadi sangat mulia ketika Mbok Luh Komang mengatakan hal itu. Aku tidak percaya kata-katanya. Lagi pula suamiku tidak menunjukkan ia menyukaiku. Buktinya, ia tidak pernah mengantarku menuju ke kota Senyum. Dan biarlah kami berpisah karena ia pembohong.
Mbok Luh Komang meski meyakinkanku bahwa suamiku memujaku dengan menyebutku bayi, sungguh aku tidak akan terpengaruh dengan keputusanku pisah ranjang sampai ia mewujudkan impianku.
”Betul, Bu. Bapak menyebut Ibu dengan mesra, ’bayiku’ begitu berulang-ulang.”
”Bayiku! Bayiku! Bayiku!” kataku mencemooh katanya. Di dalam hatiku aku memang terbuai setelah Mbok Luh menjelaskan arti bayi. Menurutnya, bayi itu sebuah realitas, bakal keindahan, kehidupan, dan masa depan manusia. Bayi itu asasi dan paling dasar. Bayi ketakbersalahan. Seorang bayi menyimpan keutamaan manusia. Ada harapan yang bercokol menumbuhkan manusia secara asasi. Manusia tidak mungkin menjadi manusia jika tidak menyimpan harapan. Hanya itu caranya menutupi kebohongan? Dia merayuku? Kapan dia bawa aku ke kota Senyum?
”Bayi itu benih harapan.” katanya, eh maksudku kata temanku yang cerdas, eh kata kekasihku yang selalu menemaniku sepanjang hari di kamar yang gelap, kota senyum yang tidak terkira indahnya.

Sukasada, Juni 2009

Minggu, 22 Agustus 2010

Batu Kecilku di Culik



Sebutir batu kecil menggelinding ke tanah kering waktu perjalanku belum usai. Tak ada yang bisa kuingat hari ini, kecuali kerinduanku kepadamu. Menghilang dalam perjalananku, kau pun hanya menghentakkan suara kecil. Entah suara pecah atau suara kegirangan. Barangkali aku terlalu angkuh untuk mengatakan bahwa pendengaranku telah kembali. Aku sangat menyesal kali kau pergi. Kepadamu, kusampaikan agar kau kembali sebelum kau dewasa oleh gerak yang asing.
Batu kecilku, setelah kau menabrak bukit kering pada musim dingin ini. Kearah itu akan kucari dirimu. Kau tentu ingat, bukit selalu membawamu ke laut. Berapa kali kau terpental dari laut hingga kembali ke bukit kering. Pada musim ini kau berada di gumukan debu barangkali. Siang hari, kau pasti sesak sebab tiada pohon lagi yang meneduhimu, bahkan ilalang di pinggir jalan itu telah terbakar. Ia tiada gairah tumbuh pada musim ini. Kau pasti susah mengingat kenangan kita di antara belalang yang kebingungan mencari rumput untuk meretas suatu pagi.
Kini, sudah kau lewati tiga pergantian musim. Kau pasti mual berputar-putar ke laut dan ke bukit. Inilah saatnya kau tersentuh oleh doa bukit itu. Daun kering telah ditiup gumamku dan akupun selama ini kebingungan menentukan arah agar cepat menemukanmu. Ada seekor burung mengabarkan bahwa burung yang lain telah menelanmu secara tidak sengaja, maka kucoba menolak perjalanan yang diagendakan cuaca.
Setiap burung pun beramai-ramai melawat geraknya di angkasa sembari menelisik bukit. Mereka berjanji menemukan jejakmu. Batu kecilku, ini bukit terakhir yang bisa kujamah sebab di seantro perjalananku, bukit-bukit telah runtuh. Bukit ini sudah teramat kering untuk digali dalam mencarimu. Bukit ini telah kehilangan teman-temannya, kijang dan semak-semak. Sejak penculikanmu, bukannya aku lelah mencarimu, tetapi di bukit ini kau kutunggu. Kau akan tersentuh. Kau bisa bersemayam di antara gerombolan debu supaya waktu pergantian musim, bukit ini kokoh menyapa berapa mesin yang lewat dan menyapu kawanan penghuni bukit. Dan, aku bergegas jatuh menyatu ke tanah-tanah supaya kau bisa rekat bersama biji-biji yang selama musim dingin bersembunyi pada putiknya. Gerombolan itu akan membuat kita terdiam dan tersentuh untuk mengubahnya menjadi taman.

Di Dahan Bukit



Oleh Luh Arik Sariadi

Tubuh membuat cahaya punya langkah
Berapa dada pernah mendekap dan
Hancurkan garis yang membentangkan kilaunya
Kini hati itu telah menjulangkan gunung
hingga tiada tepi lagi di lautan emosi

Karang-karang di air yang riak itu
telah jadi bukit-bukit kecil yang pecahkan badai sajak malam
Esok karang pun terbias jadi serbuk pasir karena air

Aku dan lututmu tenggelam
Ringkih melacak laut
Aku dan bibirmu lirih
Memilih kata-kata emosi di dahan bukit