Jumat, 08 Agustus 2014

Unsur-unsur Prosa Fiksi



 Di dalam prosa fiksi, terdapat unsur-unsur pembangun yang disebut unsur intrinsik. Yang termasuk unsur intrinsik, yaitu: tema, alur, penokohan, latar, amanat, sudut pandang, dan gaya bahasa.

a. Tema
Tema ialah inti atau landasan utama pengembangan cerita. Hal yang sedang diungkapakan oleh pengarang dalam ceritanya. Tema dapat bersumber pada pengalaman pengarang, pengamatan pada lingkungan, permasalahan kehidupan, dan sebagainya. Misalnya, tentang cinta, kesetiaan, ketakwaan, korupsi, perjuangan mencapai keinginan, perebutan warisan, dan sebagainya.

b. Alur/Plot
Alur ialah jalan cerita atau cara pengarang bercerita. Alur dapat disebut juga rangkaian atau tahapan serta pengembangan cerita. Dari mana pengarang memulai cerita mengembangkan dan mengakhirinya. Alur terdiri atas alur maju, alur mundur (flash back), alur melingkar, dan alur campuran. Tahapan-tahapan alur yaitu:

(1) pengenalan
(2) pengungkapan masalah
(3) menuju konflik
(4) ketegangan
(5) penyelesaian

Perhatikan skema berikut:

 
c. Penokohan
Penokohan ialah cara pengarang mengambarkan para tokoh di dalam cerita. Penokohan terdiri atas tokoh cerita, yaitu orang-orang yang terlibat secara langsung sebagai pemeran sekaligus penggerak cerita dan orang-orang yang hanya disertakan di dalam cerita. Dan watak tokoh, yaitu penggambaran karakter serta perilaku tokoh-tokoh cerita. Untuk menimbulkan konflik, biasanya di dalam cerita ada tokoh yang berperan penting dengan kepribadian yang menyenangkan dan ada tokoh yang berseberangan tindak-tanduk dan perilakunya dengan tokoh sentral tersebut. Tokoh utama disebut dengan tokoh protagonis dan lawannya adalah tokoh antagonis.

Cara pengarang menggambarkan para tokoh cerita ialah dengan secara langsung dijelaskan nama tokoh beserta gambaran fisik, kepribadian, lingkungan kehidupan, jalan pikiran, proses berbahasa, dan lain-lain. Dapat juga dengan cara tidak langsung, yaitu melalui percakapan/dialog, digambarkan oleh tokoh lainnya, reaksi dari tokoh lain, pengungkapan kebiasaan tokoh, jalan pikiran, atau tindakan saat menghadapi masalah.

d. Latar/Setting
Latar cerita adalah gambaran tentang waktu, tempat, dan suasana yang digunakan dalam suatu cerita. Latar merupakan sarana memperkuat serta menghidupkan jalan cerita.

e. Amanat
Amanat cerita adalah pesan moral atau nasehat yang disampaikan oleh pengarang melalui cerita yang dikarangnya. Pesan atau nasehat disampaikan oleh pengarang dengan cara tersurat yakni d.elaskan oleh pengarang langsung atau melalui dialog tokohnya; dan secara tersirat atau tersembunyi sehingga pembaca baru akan dapat menangkap pesan setelah membaca keseluruhan isi cerita.

f. Sudut Pandang Pengarang
Sudut pandang pengarang atau point of view ialah posisi pengarang dalam cerita. Posisi pengarang dalam cerita terbagai menjadi dua, terlibat dalam cerita dan berada di luar cerita.

a. Pengarang terlibat di dalam cerita. Terdiri atas pengarang sebagai pemeran utama (orang pertama), isi cerita bagaikan mengisahkan pengalaman pengarang. Selain itu, keterlibatan pengarang dalam cerita juga dapat memosisikan pengarang hanya pemeran pembantu. Artinya, pengarang bukan tokoh utama atau sentral namun ia ikut menjadi tokoh, misalnya cerita tentang kehidupan orang-orang terdekat pengarang, ayah, ibu, adik, atau sahabat seperti roman sastra berjudul “Ayahku” yang dikarang oleh HAMKA.

b. Pengarang berada di luar cerita, terdiri atas pengarang serbatahu. Ia yang menciptakan tokoh, menjelaskan jalan pikiran tokoh, mengatur dan mereka semua unsur yang ada di dalam cerita. Selain itu, pengarang berada di luar cerita dapat hanya menjadikan pengarang sebagai pengamat atau disebut sudut pandang panoramik. Pengarang menceritakan apa yang dilihatnya, sebatas yang dilihatnya. Ia tidak mengetahui secara bathin tokoh-tokoh cerita. Posisi pengarang seperti ini biasanya terdapat pada cerita narasi yang berupa kisah perjalanan.

g. Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah bagaimana pengarang menguraikan ceritanya. Ada yang menggunakan bahasa yang lugas, ada yang bercerita dengan bahasa pergaulan atau bahasa sehari-hari. Ada juga yang bercerita dengan gaya satire atau sindiran halus, menggunakan simbol-simbol, dan sebagainya. Penggunaan bahasa ini sangat membantu menimbulkan daya tarik dan penciptaan suasana yang tepat bagi pengembangan tema serta alur cerita. Setiap pengarang besar biasanya sudah memiliki ciri khas penggunaan bahasa dalam ceritanya.

BAYANGAN DI CERMIN



BAYANGAN DI CERMIN

Di sebuah pulau terpencil, jauh di tengah lautan, tinggallah sepasang suami istri dengan rukun dan damai, tidak pernah mengalami persengketaan. Namun pada suatu senja, ketika sang suami kembali dari laut, ia menemukan sepotong cermin terletak di pantai. Diambilnya cermin itu, dan alangkah heran hatinya melihat bayangan manusia di dalamnya. Inilah agaknya ayahku yang meninggal beberapa bulan yang lalu, pikirnya.

Cepat-cepat dia pulang ke rumah. Cermin itu dibungkusnya lalu disimpannya di bawah bantal. Hal ini tidaklah diceritakannya kepada istrinya.

Keesokan harinya, ketika istrinya membersihkan tempat tidur, dia menemukan bungkusan itu. Alangkah kagetnya dia setelah membukanya, dan menemukan ada seorang wanita di dalam benda yang dibungkus dengan rapi itu.

Suamiku sudah berkhianat, pikirnya. Dulu dia berjanji akan setia sampai mati. Rupanya sewaktu ke laut, dia mengambil kesempatan mencari wanita lain.

Ketika suaminya pulang dari laut senja hari, dia tidak menyambutnya dengan senyum seperti biasanya, tetapi dengan omelan. “Dulu kamu mengatakan sayalah satu-satunya wanita di dalam hidupmu. Kamu berjanji setia sampai mati. Tetapi sekarang kamu punya wanita simpanan,” tuduhnya.

Suaminya kaget. Dia tidak mengerti apa maksud istrinya. “Lha, ada apa ini? Mengapa kamu bilang saya punya simpanan?” tanyanya.

“Ini! Lihatlah!” teriak sang istri sambil menyerahkan cermin itu kepada suaminya.

Sang suami melihat ke dalam cermin, kemudian berkata, “Lihatlah baik-baik, ini bayangan mendiang ayahku.”

“Ayahmu?” teriak istrinya sambil merebut kembali cermin itu. Dia kembali melihat ke dalamnya, dan kembali terlihat bayangan wanita.
“Bohong! Ini wanita!” teriaknya.

Dengan sabar sang suami datang mendekat, sambil berkata, “Mari kita lihat bersama, dan kita buktikan bayangan siapa yang ada di dalam benda ajaib itu.”

Namun, alangkah bertambah kagetnya mereka ketika melihat sekarang ada dua bayangan di dalam cermin itu, seorang laki-laki dan seorang wanita. Dalam kekagetan dan kebingungan itu, tiba-tiba cermin itu terlepas dari tangan dan jatuh, lalu pecah berderai. Sekarang tidak ada lagi bayangan laki-laki dan wanita. Dan mereka pun tidak bertengkar lagi.

(Diceritakan kembali oleh Letmiros dalam “Menulis Secara Populer” oleh Ismail Marahimin, 2001)

Apresiasi Karya Sastra



A. Hakikat Apresiasi

Apresiasi dapat diartikan suatu langkah untuk mengenal, memahami, dan menghayati suatu karya sastra yang berakhir dengan timbulnya pencelupan atau rasa menikmati karya tersebut dan berakibat subjek apresiator dapat menghargai karya sastra yang dinikmatinya secara sadar. Karya sastra dapat dikenal atau dipahami melalui unsur-unsur yang membangunnya atau disebut dengan unsur intrinsik. Yang dimaksud unsur-unsur intrinsik, yaitu tema, plot/alur, tokoh, watak tokoh, latar, sering, amanat/pesan, sudut pandang, dan gaya bahasa. Selain dari unsur intrinsik dan teks seni berbahasa, juga dapat diapresiasi dengan menelaah penggunaan atau pilihan kata serta istilah yang terdapat dalam teks tersebut. Termasuk dalam hal ini, mencari kata-kata kunci yang menjadi penanda tema teks yang bersangkutan.
Di samping pengamatan terhadap unsur-unsur intrinsik dan pemakaian unsur bahasanya, untuk memahami suatu karya sastra atau teks seni berbahasa dapat dilakukan pula pengamatan terhadap unsurunsur ekstrinsik, yaitu hal-hal yang melatar belakangi terciptanya teks seni berbahasa tersebut. Hal-hal tersebut antara lain latar belakang pengarang, tujuan penulisan, latar sosial-budaya, lingkungan kehidupan pengarang, serta latar belakang pendidikan.

B. Proses Apresiasi
Sebelum melakukan apresiasi, umumnya seseorang memilih bentuk karya sastra atau jenis teks seni berbahasa yang disukai, misalnya bentuk karya sastra prosa, puisi, drama, atau film. Kesukaan itu akan melangkah pada upaya seseorang untuk mengetahui atau memahami lebih dalam karya yang dipilihnya. Sebuah karya sastra dapat disukai dan digemari oleh seseorang oleh karena karya tersebut dapat memberi kesan tersendiri yang menimbulkan empati bagi penggemarnya. Hal itu disebabkan proses penciptaan karya sastra meliputi hal-hal berikut ini.
  1. Upaya mengeksplorasi jiwa pengarangnya yang diejawantahkan ke dalam bentuk bahasa yang akan disampaikan kepada orang lain.
  2. Upaya menjadikan sastra media komunikasi antara pengarang atau pencipta dan peminat sastra.
  3. Upaya menjadikan sastra sebagai alat penghibur dalam arti merupakan alat pemuas hati peminat sastra.
  4. Upaya menjadikan isi karya sastra merupakan satu bentuk ekspresi yang mendalam dari pengarang atau sastrawan terhadap unsur-unsur kehidupan. Dengan kata lain, merupakan hasil proses yang matang bukan sekadar diciptakan.

Untuk mengapresiasi sebuah karya sastra atau teks seni berbahasa, perlu dilakukan aktivitas berupa:
(1)          mendengarkan/menyimak
(2)          membaca
(3)          menonton
(4)          mempelajari bagian-bagiannya
(5)          menceritakan kembali
(6)          mengomentari
(7)          meresensi
(8)          membuat parafrasa
(9)          menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan karya tersebut
(10)     merasakan seperti: mendeklamasikan (untuk puisi ) atau melakonkan (untuk drama )
(11)     membuat sinopsis untuk cerita, dan sebagainya

Selain aktivitas merespons karya sastra seperti disebutkan di atas, langkah-langkah mengapresiasi sebuah karya sastra yang diminati secara umum meliputi hal-hal berikut
  1. Menginterpretasi atau melakukan penafsiran terhadap karya sastra berdasarkan sifat-sifat karya sastra tersebut
  2. Menganalisis atau menguraikan unsur-unsur karya sastra tersebut, baik unsur intrinsik maupun ekstrinsiknya
  3. Menikmati atau merasakan karya sastra berdasarkan pemahaman untuk mendapatkan penghayatan
  4. Mengevaluasi atau menilai karya sastra dalam rangka mengukur kualitas karya tersebut
  5. Memberikan penghargaan kepada karya sastra berdasarkan tingkat kualitasnya

C. Jenis Apresiasi
Dalam tahapan apresiasi tertinggi, seseorang akan dapat memberikan penilaian dan penghargaan yang posisif bagi sebuah karya sastra. Ia pun dapat memberikan penjelasan secara objektif dan mempertanggungjawabkan sikapnya tersebut kepada orang lain. Setelah melakukan pilihan kepada sebuah bentuk karya sastra yang menarik pikiran dan perasaan atau jiwa seninya, seseorang akan merespons karya tersebut dengan dua bentuk sikap atau jenis apresiatif, yaitu apresiasi yang bersifat kinetik atau sikap tindakan dan apresiasi yang bersifat verbalitas

Apresiasi bersifat kinetik, yaitu sikap memberikan minat pada sebuah karya sastra lalu berlanjut pada keseriusan untuk melakukan langkahlangkah apresiatif secara aktif. Misalnya, untuk bentuk karya sastra berupa prosa fiksi seperti cerpen dan novel, tindakan apresiatifnya ialah memilih cerpen atau novel yang sesuai kehendaknya. Selanjutnya, membaca dan menyenangi novel sejenis, menyenangi tema atau pengarangnya, memahami pesan-pesannya, jalan ceritanya, serta mengenal tokoh-tokoh dan watak tokohnya, bahkan secara ekstrim ada yang berkeinginan mengindentifikasi diri menjadi tokoh yang digemari dalam karya prosa tersebut. Puncak dari sikap apresiasinya ialah ingin dapat membuat karya cerpen atau novel seperti itu. Setidak-tidaknya dapat memberikan komentar atau tanggapan tentang hal yang berhubungan dengan novel yang digemari.

Untuk karya puisi, memerhatikan pembacaan puisi, menyukai puisi-puisi tertentu, berusaha memahami makna puisi yang disukai, mengenal para penyair jenis puisi yang disukai, berusaha dapat membaca puisi dengan baik, dan puncaknya berkeinginan dapat membuat puisi sejenis serta menulis tanggapan atau ulasan mengenai puisi itu. Untuk karya sastra drama apresiasif kinetiknya menyukai pementasan drama, tertentu, mengenal karakter tokohnya, para kru di belakangnya, dan ingin melakonkan tokoh tertentu pada drama sejenis. Sekarang mungkin objeknya lebih kepada bentuk tayangan film yang memiliki unsur-unsur yang sama dengan drama.

Apresiasi bersifat verbal, yaitu pemberian penafsiran, penilaian, dan penghargaan yang berbentuk penjelasan, tanggapan, komentar, kritik, dan saran serta pujian baik secara lisan maupun tulisan. Dalam kaitannya dengan aspek kompetensi menyimak, apresiasi bermula pada proses mendengarkan penyampaian karya sastra secara lisan dengan serius dan saksama, kemudian berlanjut pada pencapaian langkah-langkah apresiasi yang telah d.elaskan di atas. Untuk pembelajaran tentang apresiasi sastra, semua bentuk karya sastra yang dapat diperdengarkan harus dipelajari. Bentuk karya sastra tersebut berjenis prosa dan puisi.

D. Pengertian Prosa
Prosa ialah karya sastra yang berbentuk cerita yang bebas, tidak terikat oleh rima, irama, dan kemerduan bunyi seperti puisi. Bahasa prosa seperti bahasa sehari-hari. Menurut isinya, prosa terdiri atas prosa fiksi dan nonfiksi.
1. Prosa Fiksi

Prosa fiksi ialah prosa yang berupa cerita rekaan atau khayalan pengarangnya. Isi cerita tidak sepenuhnya berdasarkan pada fakta. Prosa fiksi disebut juga karangan narasi sugestif/imajinatif. Prosa fiksi berbentuk cerita pendek (cerpen), novel, dan dongeng.

  1. Cerpen adalah cerita rekaan yang pendek dalam arti hanya berisi pengisahan dengan fokus pada satu konflik saja dengan tokohtokoh yang terbatas dan tidak berkembang. Alur cerita sederhana hanya memaparkan penyelesaian konflik yang diungkapkan.
  2. Novel berasal dari bahasa Italia, novella yang berarti barang baru yang kecil. Kemudian, kata tersebut menjadi istilah sebuah karya sastra dalam bentuk prosa. Novel lebih panjang isinya dari pada cerpen. Konflik yang dikisahkannya lebih luas. Para tokoh dan watak tokoh pun lebih berkembang sampai mengalami perubahan nasib. Penggambaran latar lebih detail. Bersamaan dengan perjalanan waktu terjadi perubahan-perubahan hingga konflik terselesaikan.
  3. Dongeng adalah cerita rekaan yang sama dengan cerpen atau novel. Hanya di dongeng, cerita yang dikisahkan adalah tentang hal-hal yang tak masuk akal atau tak mungkin terjadi. Misalnya, orang dapat menjelma jadi binatang, binatang dapat berkata-kata, dan sebagainya. Dongeng biasanya menjadi sarana penyampaian nasihat tentang moral atau bersifat alegoris. Contoh dongeng: Kancil dan Buaya, Jaka dan Pohon Kacang Ajaib, Eneng dan Kaos Kaki Ajaib, dan lain-lain.

Bali di Titik Nol_Feature



Bali di Titik Nol

Perjalanan ini mendaki, mengejar kabut-kabut tipis di lereng utara Gunung Abang, dikepung pemandangan surgawi, untuk menemui kenyataan pahit yang terbiarkan di sana selama beberapa generasi. Gadis kecil itu bernama Novi.

“Umur saya, sebelas tahun,“ katanya. Wajah berlepotan debu itu tersipu. Rambutnya kemerahan sedikit. Kulitnya bersisik. Ia hanya setahun duduk di sekolah dasar. Ayahnya, Nyoman Sitor, tidak tega membiarkan anaknya naik turun bukit setiap hari untuk sekolah. Satu-satunya sekolah dasar terletak di pusat Desa Trunyan, sekitar 3,5 kilometer dari dusun.

Novi tidak sendiri. I Made Jepri lebih merelakan anak perempuan semata wayangnya ikut sang ibu berjualan ke Denpasar daripada bersekolah. Ibu dan anak itu pulang ke dusun lima minggu sekali.

Di Dusun Banjar Madya, banyak anak tak selesai SD. Kebanyakan penduduk di dusun berpenduduk 670 orang itu tidak bisa baca tulis. Bahkan, kelian (kepala dusun) Banjar Madya, Nyoman Putra (23 tahun), hanya sampai kelas 3 SD meski bukan berarti pendidikannya berhenti pada tingkat itu.

Dusun Banjar Madya, Desa Trunyan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, terletak di ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut. Dibutuhkan sekitar tiga jam perjalanan dengan mobil pribadi dari Kuta, ditambah 2,5 jam jalan kaki menanjak ke arah puncak Gunung Abang yang berketinggian sekitar 2.153 meter.

Jarak dari ujung jalan beraspal sampai ke bale banjar di dusun itu sekitar dua kilometer, tetapi menanjak dengan kemiringan antara 20-60 derajat. Di bawah ada bagian yang gembur tertutup tebu yang tebalnya semata kaki, berkubang di sana-sini.

Perjalanan ini dimanjakan gambaran sempurna tentang tanah air nan elok permai. Sulit memilih kata untuk mendeskripsikannya ketika membaui wangi tanaman hutan dan tanah lembab yang terinjak ketika mendengar suara serangga musim panas yang gempita dan ketika kabut mendekat, memeluk tubuh, mengusir lelah, menyerap keringat dan yang dibawa dari udara bersuhu 39 derajat Celcius dengan kelembaban tinggi di bawah.

Kabut berarak lagi ke ketinggian tertentu, seperti menunggu. Perjalanan mendaki seperti menunggu. Perjalanan mendaki seperti perjalanan mengejar kabut .....

Di balik keindahan

Seluruh suasana itu dengan mudah meluputkan pemandangan sebenarnya tentang separuh Bali yang lain: perbukitan gundul, pepohonan meranggas, ladang kosong, dan pekarangan yang kerontang. Bau tinja manusia kerap mengambar ke diterbangkan angin. Sampai hari ini, warga dusun tak kenal kamar mandi dan jamban.

“Kami ingin punya kamar mandi dan jamban, tetapi di sini air susah sekali,” ujar Wayan Putra. “Pada musim kemarau seperti ini, kami mandi dua-tiga hari sekali.”

Kenyataan ini meruntuhkan gambaran tentang kemakmuran Bali etalasenya dipajang di Nusa Dua, di Kuta, Sanur, dan pada 16 titik pengembangan wisata lainnya di pulau seluas 5.632,86 kilometer persegi itu; tentang Bali yang berada di papan atas dalam peta pariwisata dunia, dan tentang eksotismenya yang dipuja-puja.

Andai tahu situasi nyata di perutnya, entah apakah bunyi, “Jangan mati sebelum menginjak Bali,” masih digunakan; atau memang kenyataan itu tak berhubungan dengan gambaran yang diciptakan untuk mimpi indah pada pendatang; atau lebih parah lagi, jangan-jangan situasi itu justru menjadi bagian dari “eksotisme” dan surga bagi peneliti.

Kabut turun ketika kami tiba di depan Bale Banjar. Uap putihnya menerobos pepohonan. “Kabut ini pertanda baik bagi kami,” kata Nyoman Darsana (25). Dilupakan.

Pada setiap tamu yang datang, Wayan Putra selalu mengharapkan air untuk warganya. Janji pemerintah, kata dia, hanya tinggal sebagai janji. Di dusun itu, sumber air bersih bergantung pada air hujan. Sangat terbatas sehingga menipiskan sumber kehidupan dan menyempitkan pilihan hidup.

Selama musim penghujan, air ditampung di bak-bak tembok tertutup. Ada 16 bak di situ, setiap bak digunakan 10 keluarga. Tetapi, seringkali cadangan air tak cukup untuk melewati musim kemarau sehingga warga harus mencari air ke Danau Batur dengan berjalan kaki selama tiga jam sekali jalan.

“Kami ini warga Bali yang dilupakan,” kata Wayan putra dengan nada getir. ”Di Kuta dan area-area wisata lainnya di Bali, air bersih berlimpah. Di sini untuk mendapat air satu ember saja susah.”

Sayangnya, bantuan yang datang bukan yang sangat dibutuhkan. Desa itu baru sekali mendapat bantuan, Rp 8 juta, dari pemerintah kabupaten. Mungkin karena tak punya pengalaman dengan bantuan, uang itu malah digunakan untuk memperbaiki balai banjar dan jalan setapak menuju balai dan puri.

Status sebagai Komunitas Adat Terpencil (KAT) membuat desa itu mendapat bantuan dari Departemen Sosial, tahun 2005, berupa satu panel sel surya matahari yang digunakan untuk menerangi pura dan balai. Bantuan lain berupa material, termasuk seng untuk membangun rumah warga yang semula dari bambu, menjadi rumah tembok.

“Pada saat itulah, terjadi penebangan kayu besar-besaran di sini,” kata Wayan Cipta.
Departemen Sosial juga memberi bantuan pengh.auan bibit kayu jati, 35 batang per KK, tetapi rata-rata yang hidup hanya dua pohon. “Bantuan itu salah musim karena diberikan saat musim kemarau,“ sambung Wayan Cipta.

Pos kesehatan baru ada lima bulan terakhir , biasanya dilayani seorang mantri kesehatan, seminggu empat kali di Bale Banjar. Sebelumnya hanya pelayanan puskesmas keliling sebulan sekali. Tetapi, gunanya tak banyak karena warga tak bisa membayar ongkosnya, Rp 5.000 di pos kesehatan dan Rp 3.500 di puskesmas keliling.

Meski penghidupan sangat sulit, warga Dusun Banjar Madya tabu mengemis . “Malu,” sergah Wayan Putra.

Mereka memilih bekerja keras dengan hasil yang sangat tidak memadai. Sebagian besar pekerjaan warga adalah bertani tadah hujan. Jika curah hujan masih memadai, mereka dapat menanam bawang merah. Tetapi, biaya produksinya tak kecil.

Panen bagus menghasilkan sekitar 60 kilogram bawang per are tiap enam bulan dengan penghasilan bersih tak lebih dari Rp 200.000. Mereka biasa berjalan kaki hingga 10 kilometer dengan beban 50 kilogram di punggung.

Pendapatan itu dipakai untuk membeli beras sebagai pencampur makanan pokok dan kebutuhan pokok lain. Makanan utama warga adalah singkong dan jagung. Jika uang habis, warga mencari kayu bakar.

“Satu pikul harganya Rp. 10.000, kami dapat setelah jalan kaki memikul selama tiga jam,” kata Wayan Aryana (25 tahun).

Dengan situasi seperti itu, cita-cita menguap dari kamus anak-anak. Tetapi, Novi tahu, 20 teman seumurnya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Kuta.....

(Sumber: Kompas, 9 Desember 2007)